Loading Now

Rani, affair dengan iparku

Suasana depan rumah mertuaku terasa sepi. Walau pun rumah mertuaku ini berada di pinggir jalan provinsi empat lajur yang dipisahkan pembatas jalan selebar 2 meter, namun awalnya jalan ini merupakan jalan perumahan kedinasan tempat mertuaku bekerja yang kemudian dijadikan sebagai jalan alternatif menuju bandar udara di pinggiran Kota Jakarta.

Rumah yang ditempati mertuaku cukup luas yaitu dengan lebar sekitar 12 meter dan panjang sekitar 20 meter. Lahan sepanjang 7 meter digunakan untuk teras dan parkir mobil yang cukup untuk memarkir 4 mobil, sedangkan lahan sisanya sepanjang 13 meter digunakan untuk bangunan 2 lantai.

66a98edc62e6c9ff1687d8ecd9a07403-576x1024 Rani, affair dengan iparku

Pada bangunan lantai dasar terdapat ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur, 1 kamar tidur utama, 1 kamar tidur, dan 2 kamar mandi yang mana salah satunya berada di antara 2 kamar tidur dengan masing pintu akses ke kamar mandi, dan 1 kamar tidur kecil untuk asisten rumah tangga. Bangunan lantai atas terdapat 3 kamar tidur, 1 kamar mandi, dan tempat cuci beserta tempat cuci pakaian. Rumah dengan cat warna merah muda ini sudah ditempati mertuaku sejak tahun 1992.

Aku turun dari mobil dengan tetap membiarkan mesin mobil masih menyala. Kulangkahkan kakiku menuju pintu garasi rumah mertuaku untuk melihat apakah masih ada tempat di garasi untuk parkir mobilku. Kulihat masih ada tempat kosong untuk mobilku parkir. Kubuka gembok yang terpasang di kunci pagar dengan anak kunci yang sejak tadi turun mobil aku genggam. Aku memiliki anak kunci pagar dan rumah mertuaku karena memang kebijakan dari mertuaku yang memberikan anak kunci rumah mertuaku kepada para penghuni rumah ini dengan tujuan agar tidak mengganggu penghuni lainnya apabila ada penghuni yang pulang larut malam.

Selesai memarkir mobilku di dalam garasi, aku mengunci kembali pagar rumah mertuaku seperti semula. Aku buka pintu belakang mobilku untuk mengambil barang-barang yang ada di bangku belakang. Barang-barang yang aku bawa dari Bandung ini berupa pakaian kotor yang aku simpan di travel bag warna hitam dan tote bag warna coklat tua, sekantong plastik ukuran sedang berisi makanan kering khas kota Bandung, dan tas kerjaku berupa tas backpack warna hitam. Aku turunkan barang-barang bawaanku satu persatu dan aku tempatkan di depan pintu rumah mertuaku.

Pakaian kotor yang aku bawa dari Bandung ini sengaja aku bawa ke rumah mertuaku untuk aku cuci di rumah mertuaku karena aku mengambil libur pengganti selama 5 hari setelah 1 bulan lamanya aku tidak mendapatkan libur, hal ini disebabkan setiap akhir tahun perusahaan tempat aku bekerja menerapkan kebijakan posko akhir tahun untuk menghadapi perayaan Natal dan Tahun Baru.

*

Perkenalkan, namaku Rio, usiaku saat ini menjelang 32 tahun. Tinggiku sesuai rata-rata pria Indonesia pada umumnya, sekitar 168 centimeter. Beratku sekitar 71 kilogram, jadi tidak kurus dan tidak juga gemuk, proporsional dengan tinggi badanku. Kulitku berwarna coklat terang. Aku bekerja sebagai karyawan BUMN bidang jasa pengiriman yang saat ini sudah hampir 5 bulan ditugaskan sebagai salah satu pimpinan unit pada kantor cabang di Bandung.

Aku mempunyai bernama Risa, usianya terpaut 6 tahun di bawahku, yaitu menjelang usia 26 tahun. Istriku memiliki tinggi badan sekitar 157 centimeter dan saat ini memiliki berat badan sekitar 52 kilogram karena sedang mengandung anak kami yang pertama dengan usia kandungan 12 minggu (3 bulan). Warna kulit istriku putih bersih. Istriku juga bekerja sebagai karyawan BUMN di bidang jasa keuangan yang ditugaskan di kantor cabang di kota sebelah barat Jakarta, tidak terlalu jauh dari rumah mertuaku. Kami telah menikah lebih dari 1 tahun, setelah sebelumnya berpacaran lebih dari 8 tahun.

Istriku anak kedua dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan. Kakaknya yang bernama Dita, berusia 2 tahun lebih tua dari istriku, telah menikah dan mempunyai 1 anak serta tinggal di kota sebelah mengikuti suaminya. Sedangkan adiknya bernama Rani berusia 22 tahun, masih kuliah di salah satu perguruan tinggi ternama di negeri ini.

Ketiga bersaudara ini mirip satu sama lain, mengikuti garis wajah ibunya. Malah seringkali kalau mereka jalan berempat, disangka kembar empat oleh orang lain. Di antara ketiganya, istriku yang paling cantik. Dengan warna kulit yang putih bersih, membuat orang lain menyangka istriku keturunan tiong hoa, padahal keluarga istriku aslinya dari Malang. Sedangkan kakak dan adiknya berkulit lebih gelap.

*

Kubuka perlahan kunci pintu rumah mertuaku agar tidak menimbulkan kegaduhan pada dini hari ini. Aku masukkan satu persatu barang-barang yang tadi aku letakkan di depan pintu rumah ke kursi tamu yang letaknya tidak jauh dari pintu. Kemudian aku kunci kembali pintu rumah mertuaku hampir tanpa suara.

Setelah kucabut kunci pintu rumah dari lubang kuncinya dan memasukkannya ke dalam saku kanan belakang celanaku, aku mengambil kantong yang berisi makanan kering dan membawanya ke arah dapur.

Sesampainya di dapur, aku letakkan kantong makanan tersebut di atas meja makan yang terbuat dari kayu ukuran 150×120 centimeter dengan 6 kursi kayu berada di sisi-sisinya. Selanjutnya aku beranjak ke arah rak piring setinggi 150 centimeter yang letaknya sekitar 1 meter dari meja makan. Aku ambil salah satu gelas kristak yang berada di rak kedua dari atas. Kemudian aku menuju kulkas 2 pintu berwarna abu-abu letaknya berlawanan dari posisi rak piring.

Aku buka pintu kulkas dan kuambil botol kaca bekas kemasan sirup yang berisi air putih dingin yang terlihat dari botol kaca yang berembun. Kupindahkan sebagian isi botol kaca itu ke dalam gelas yang ada di tangan kiriku, kutuangkan sampai 7 per 8 penuh. Kemudian ak minum air putih dingin yang ada di gelas kristal menggunakan tangan kiriku. Satu gelas air dingin ternyata tidak dapat menghilangkan rasa dahagaku selama 2 jam perjalanan dari Bandung, lalu kutuang kembali air dingin ke dalam gelas dan meminumnya kembali.

Setelah dahagaku hilang, kemudian aku menuju ruang tamu di mana barang-barangku lainnya berada. Aku gendong tas backpack-ku, aku ambil tote bag dengan tangan kiriku dan travel bag dengan tangan kananku. Kemudian aku langkahkan kakiku menuju tangga beton dengan railing stainless steel yang letaknya bersebelahan dengan ruang tamu dan menaikinya menuju lantai 2 rumah mertuaku.

Seperti dijelaskan sebelumnya, bangunan lantai 2 ini terdapat 3 kamar tidur, 1 kamar mandi, dan balkon untuk tempat cuci dan jemur pakaian. Posisi kamar mandi sedikit berhadapan dengan tangga. Di antara tangga dan kamar mandi terdapat area kosong berukuran sekitar 2×2 meter. Jika posisi dari arah tangga, sisi sebelah kiri terdapat lorong menuju balkon dan di sebelahnya terdapat pintu kamar tidur milik Mba Dita, yang letaknya saling siku dengan pintu kamar mandi. Sedangkan di sisi sebelan kanan terdapat 2 pintu kamar yaitu pintu kamar tidur milik Rani dan pintu kamar tidur milik Risa, istriku.

Saat Mba Dita, Risa, dan Rani masih anak-anak, kamar Risa dan kamar Rani dibongkar pembatasnya sehingga menjadi 1 kamar tidur yang besar, karena masing-masing kamar itu berukuran 3×3 meter. Kamar besar itu merupakan kamar tidur mereka bertiga. Akan tetapi saat Mba Dita duduk di bangku SMA, dia meminta memiliki kamar sendiri dan memilih kamar yand di dekat kamar mandi itu. Kemudian setelah Risa menjelang masuk kuliah, Risa juga meminta kamar sendiri, oleh karena itu kamar tidur besar itu disekat kembali dengan menggunakan gypsum. Akan tetapi sekat yang dipasang tidak tertutup sepenuhnya, karena posisi AC (Air Conditioner) yang terpasang berada di tengah-tengah antara kamar tidur Risa dan kamar tidur Rani, sehingga terdapat celah untuk penempatan AC tersebut.

Sebenarnya aku dan Risa sudah mempunyai rumah sendiri, lokasinya tidak jauh dari rumah mertuaku, tidak sampai 3 kilometer. Akan tetapi sejak aku pindah tugas ke Bandung, Risa memilih tinggal bersama mertuaku karena kesepian kalau ditinggal sendirian, apalagi saat ini Risa dalam kondisi hamil. Kami akan tinggal di rumah kami saat weekend, yaitu saat aku pulang ke kota ini.

Kamar tidur yang aku tempati bersama Risa di rumah mertuaku ini terdapat sebuah tempat tidur ukuran 160×200 centimeter yang posisinya pada sudut kamar sebelah kanan berhadapan dengan pintu kamar menempel pada sisi dinding rumah dan sisi dinding sekat dengan kamar Rani. Sejajar dengan tempat tidur pada sudut kamar sebelah kiri, terdapat lemari pakaian ukuran 80x55x190 centimeter menempel pada dinding rumah berwarna putih tempat menyimpan pakaianku. Pada dinding sebelah kiri kamar, berseberangan dengan dinding sekat kamar Rani, terdapat jendela ukuran 180×120 centimeter yang terdiri 2 daun jendela yang dapat dibuka ke arah luar kamar. Seberang lemari pakaianku, pada sudut kiri kamar sejajar dengan pintu kamar, terdapat lemari pakaian Risa ukuran 150x55x190 centimeter dan di sebelah kanan lemari dekat pintu kamar terdapat meja rias ukuran 60x45x150 centimeter yang keduanya berwarna putih juga.

Aku membuka pintu kamar Risa yang tidak terkunci secara perlahan menggunakan tangan kananku, aku tidak mau membuat kegaduhan yang dapat membangunkan Risa dari tidurnya, karena Risa baru tertidur sekitar pukul 1 tadi saat kami berteleponan saat aku dalam perjalanan ke rumah mertuaku ini, dan Risa juga harus kembali bekerja di pagi harinya. Secara perlahan juga ak geser daun pintu supaya terbuka lebih lebar agar barang=barang yang aku bawa dapat ikut masuk ke dalam kamar bersamaku.

Lampu kamar Risa dalam keadaan padam, dengan bantuan cahaya yang berasal dari lampu di atas tangga, aku dapat melihat tubuh Risa sedang tidur di atas tempat tidur. Posisi tubuhnya miring ke kanan menghadap dinding rumah dengan bantal kepala berada di sisi dinding sekat, kaki kirinya tertekuk sedikit ke atas yang ditumpangkan pada guling yang sedang dipeluk Risa, membuat celana dalamnya yang berwarna putih terlihat jelas akibat daster yang dipakainya tersingkap. Aku dapat memaklumi cara tidurnya yang miring seperti itu, karena itu salah satu posisi tidur yang baik bagi wanita yang sedang hamil.

Aku tutup kembali pintu kamar hampir tanpa suara. Keadaan kamar kembali menjadi gelap, hanya sedikit cahaya dari luar kamar yang masuk melalui kisi-kisi di atas pintu kamar. Kemudian aku letakkan travel bag, tote bag, dan tas backpack di depan lemari Risa. Aku urungkan niat mengeluarkan isi tas-tas tersebut karena khawatir membuat suara yang gaduh, nanti pagi saja pikirku.

Aku lepas jam tangan yang aku pakai dan aku letakkan di meja rias. Kemudian aku keluarkan 2 telepon selular milikku dari saku kanan dan kiri celana panjang trainning yang aku pakai dan meletakkannya di meja rias dekat jam tanganku. Aku lepas juga celana panjang trainning dan aku gantung di gantungan belakang pintu kamar, sehingga menyisakan celana pendek boxer dan kaos oblong yang aku pakai. Aku sudah mandi dan mengganti pakaian kerjaku dengan pakaian untuk tidur saat aku masih di wisma sebelum aku berangkat ke rumah mertuaku, dengan tujuan agar aku bisa langsung tidur begitu sampai di rumah ini.

Setelah menggantung celanaku, aku membalikkan badan ke arah tempat tidur melihat ke arah Risa yang sedang tertidur. Hasrat seksualku langsung muncul begitu melihat Risa yang tertidur dengan posisi daster yang tersingkap memperlihatkan bongkahan pantat Risa yang masih terbalut celana dalamnya yang berwarna putih. Maklum saja, hampir sebulan ini aku tidak dapat menyalurkan rasa kasih sayangku dengan bersenggama dengan Risa, langsung saja aku melangkah menuju tempat tidur dengan harapan dapat melampiaskan rasa kangenku kepada Risa, tentu saja hal ini bertolak belakang dengan keheningan yang aku jaga agar tidak mengganggu Risa tidur. Aku jadi geli sendiri memikirkannya.

Baru satu langkah aku berjalan, langsung aku hentikan langkahku. Aku terdiam tertegun bediri di samping tempat tidur. Aku melihat ada kejanggalan di sini.

Aku memperhatikan baik-baik sosok tubuh di hadapanku ini, memastikan kembali sosok yang sedang tertidur dengan pulasnya itu. Aku perhatikan tinggi sosok tubuh ini, aku bandingkan dengan ukuran tempat tidurku. Walaupun posisi kakinya yang tertekuk, aku memperkirakan sosok ini tingginya hampir 170 centimeter, jelas lebih tinggi dari Risa yang 157 centimeter. Apa iya Risa bertambah tinggi lebih dari 10 centimeter setelah aku tinggal hampir 1 bulan? Pikirku.

Kemudian dari bentuk badan, aku memperkirakan lebih lebar dari Risa, tapi itu bisa saja terjadi mengingat Risa sedang hamil muda yang mana pertumbuhan berat badannya nya bisa sangat signifikan selama hampir 1 bulan. Selanjutnya aku memperhatikan pakaian yang dikenakan sosok tubuh ini, daster warna gelap dengan motif bunga-bunga berwarna putih. Aku mengingat-mengingat kembali apakah Risa memiliki daster dengan motif dan warna seperti ini. Tapi bisa saja Risa membelinya baru-baru ini sehingga aku belum pernah melihatnya, pikirku kembali.

Postur tubuh wanita yang sedang tertidur di hadapanku ini sangat mirip dengan postur tubuh Rani. Tapi aku pun masih ragu, karena hari ini adalah hari Selasa dini hari, harusnya Rani sudah kembali ke kosan di dekat kampusnya sejak hari Minggu sore atau paling tidak di hari Senin pagi.

Aku urungkan niatku untuk segera menuntaskan hasrat seksualku. Untuk menjawab rasa raguku, aku memutuskan untuk memeriksa kamar sebelah, yaitu kamar tidur Rani.

Aku pun segera membalikkan badan dan perlahan-lahan membuka pintu kamar tidurku. Setelah melangkah keluar kamar, pintu kamar Risa pun aku tutup kembali nyaris tanpa menimbukan suara. Aku langsung menuju kamar tidur Rani. Aku buka pintu kamarnya dengan sedikit melebihkan tenaga, karena sepengetahuanku pintu kamar Rani memang agak sulit dibuka dan jika membuka atau pun menutup pintu pasti akan menimbulkan suara berdecit.

Aku dorong perlahan pintu kamar Rani ke arah dalam. Aku tahan sedikit supaya tidak terbuka terlalu lebar. Setelah pintu kamar Rani terbuka hampir selebar 20 centimeter, aku menjulurkan kepalaku ke arah dalam kamar tidur Rani untuk meilhat kondisi di dalam kamar.

Dengan bantuan cahaya dari arah belakangku yang berasal daru lampu di atas tangga, aku melihat sosok tubuh yang sedang tidur atas tempat tidur kamar Rani. Posisi tubuhnya sedikit miring ke kiri. Posisi kepalanya ada di sisi dekat jendela kamar Rani, menjauhi atau berlawanan arah dengan dinding penyekat antara kamar Rani dan kamar Risa. Dengan posisi tidur seperti itu, aku bisa memastikan dengan jelas siapa sosok tubuh yang tidur di kamar Rani, karena aku bisa melihat dengan jelas paras wajah istriku yang cantik dan pakaian yang dikenakannya pun sangat aku kenal, daster warna merah muda motic batik yang pernah aku belikan untuk Risa, jadi ya, sosok itu adalah Risa, istriku. Itu artinya sosok yang tertidur di kamar Risa adalah Rani. Entah alasan apa mereka bertukar posisi kamar tidur.

Namun begitu lah kalau syaitan sudah berkehendak, bukannya aku membuka pintu kamar Rani semakin lebar sehingga aku bisa masuk ke dalam kamar Rani dan langsung mengambil posisi tidur samping Risa, tetapi aku malah kembali menutup kembali pintu kamar Rani bahkan dengan semakin perlahan berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikit pun yang bisa membangunkan Rani.

Aku berdiri termenung di area kosong depan kamar tidur Rani, mencoba memahami dan menganalisis situasi yang aku hadapi saat ini. Batin dan pikiranku bergejolak. Pada satu sisi aku berpikir untuk segera masuk ke dalam kamar Rani di mana istriku Risa sedang tertidur dan pergi berbaring bersamanya, atau dengan sedikit harapan bisa sekalian melampiaskan hasrat seksualku bersama Risa yang sudah tertahan selama hampir sebulan.

Sedangkan di sisi lainnya, di kamar Risa terdapat Rani yang sedang tertidur dengan posisi yang membuat hasrat laki-lakiku tertantang, dan seketika itu juga penisku langsung berdiri tegak saat mengingatnya. Karena merasakan kehangatan tubuh Rani merupakan salah satu hal yang telah aku idam-idamkan selama bertahun-tahun.

Aku mengenal Rani sejak awal pacaran aku dan Risa, dia berusia 12 tahun, saat itu baru kelas 1 Sekolah Menengah Pertama favorit di kota ini. Aku menyaksikan sendiri masa pertumbuhannya selama ini. Sebagai anak bungsu di keluarga mertuaku, Rani selalu dimanja. Apabila di dalam rumah, saat itu Rani hanya memakai celana yang sangat pendek dan memakai kaos singlet atau kaos dalam tanpa memakai bra. Awalnya aku tidak terlalu mempedulikannya, bagiku Rani hanya seorang adik kecil yang sedang tumbuh menuju remaja. Seperti halnya Rani menganggapku sebagai kakak laki-lakinya karena kakak-kakaknya perempuan semua.

Rani terus tumbuh menjadi seorang gadis cantik, akan tetapi cara Rani berpakaian di rumah tidak berubah, meskipun saat itu aku sedang berada di rumah mertuaku. Bukan hanya soal berpakaian, sikap Rani di rumah juga serampangan, sering kali aku melihat payudara dan area selangkangannya secara jelas. Aku sudah berulang kali protes kepada Risa kalau aku juga seorang laki-laki normal, aku juga bisa terangsang melihat cara berpakaian dan sikap Rani bila aku sedang di rumah mertuaku. Tetapi tanggapan Risa hanya tertawa kecil dan menganggap omonganku sebagai becandaan belaka. Jujur saja, beberapa kali hasrat seksualku menjadi tinggi saat dipertontonkan tubuh indah Rani. Akhirnya aku lampiaskan nafsuku kepada Risa yang saat itu masih menjadi pacarku.

449775612_456930880468827_4230091887086203380_n-819x1024 Rani, affair dengan iparku

Bahkan aku sempat sangat kesal saat menduga keperawanan Rani telah direnggut oleh pacarnya saat Rani duduk di kelas 3 Sekolah Menengah Atas. Dugaan ini timbul karena Rani beberapa kali terpergok sedang berduaan dengan pacarnya di kamarnya saat rumah mertuaku dalam keadaan kosong. Aku kesal karena telah ada orang lain yang lebih dahulu menikmati tubuh indah Rani.

Kesempatan tidak datang 2 kali, pikirku. Aku terinspirasi dari film porno yang pernah aku tonton. Pada salah satu adegan di dalam film porno ini, terdapat adegan seorang pria yang keliru menyetubuhi sahabat pacarnya yang menginap di apartemen pacarnya. Pria tersebut menganggap sahabat pacarnya adalah pacarnya karena kondisi apartemen pacarnya yang gelap. Ini bisa aku jadikan referensi, pikirku lagi. Aku harus bisa merancang perbuatan persetubuhan yang akan aku lakukan terhadap Rani seolah-olah adalah sebuah kejadian yang spontan dan tidak disengaja.

Aku juga harus memikirkan apa reaksi Rani saat aku melakukan perbuatan ini, karena walau rencana ini seolah-olah spontan dan tidak disengaja, tapi akan membuat aku malu adalah bila reaksi Rani yang kaget dan berteriak membangunkan setiap orang di rumah mertuaku ini. Ini risiko terbesarnya, hanya malu. Tetapi rasa malu yang nanti akan aku dapatkan, harus setimpal dengan hasil atau tujuan perbuatan aku ini. Kalau seperti ini, sudah jelas target utamaku adalah penisku di dalam vagina Rani. Memikirkan ini saja membuat penisku semakin tegang, membayangkan hangatnya vagina Rani menyelimuti penisku. Aku sudah menemukan caranya.

Aku melangkah menuju pintu kamar Risa. Dengan perlahan-lahan dan penuh hati-hati, aku buka pintu kamar Risa berusaha tanpa menimbulkan suara, jangan sampai Rani terbangun, jangan menyia-nyiakan kesempatan luar biasa ini. Setelah pintu terbuka cukup lebar untuk dapat dilalui tubuhku, aku langkahkan kakiku ke dalam kamar Risa. Kemudian aku tutup pintu kamar Risa dengan perlahan pula dan penuh hati-hati.

Aku berdiri terdiam terpaku melihat sosok tubuh Rani yang tertidur di tempat tidur di hadapanku. Posisinya belum berubah dari sebelum aku keluar kamar ini tadi. Bagian bawah daster yang dipakai Rani masih dalam keadaan tersingkap sampai dengan pertengahan pantat Rani, memperlihatkan celana dalam putihnya yang masih membungkus daerah selangkangan Rani.

Dadaku berdebar kencang, gugup untuk memulai rencanaku. Batang penisku menjadi semakin tegang akibat dipompa oleh kencangnya debaran jantungku. Aku sedang mencari bagian tempat tidur mana yang akan aku naiki yang tidak menimbulkan goncangan berlebih yang dapat membuat Rani terbangun. Tempat tidur di kamar Risa ini berjenis tempat tidur per atau springbed yang usianya sudah cukup lama, kekuatan per tempat tidurnya sudah tidak terlalu bagus, sehingga kalau ada gerakan yang tiba-tiba maka akan menimbulkan goncangan di atas tempat tidur.

Aku melangkah mendekati sisi tempat tidur dan memposisikan tubuhku membelakangi tempat tidur. Perlahan-lahan aku membungkukkan tubuhku untuk duduk di tengah-tengah tepi tempat tidur dengan kedua tanganku berada di tepian tempat tidur di sisi kanan dan kiri tubuhku untuk membantu menopang tubuhku agar tidak tempat tidur Risa tidak menerima tekanan besar secara tiba-tiba. Setelah tubuhku dapat duduk dengan sempurna di tepian tempat tidur, perlahan-lahan aku memiringkan badanku ke kiri untuk merebahkan badanku dengan posisi miring ke kiri. Kemudian aku angkat kedua kakiku ke atas tempat tidur dengan menyesuaikan posisi badanku yang telah terlebih dahulu menempel pada tempat tidur.

Tubuhku saat ini sudah sepenuhnya berada di atas tempat tidur dengan posisi miring ke kiri. Perlahan-lahan aku mengubah posisi tubuhku menjadi terlentang. Sejenak aku dalam posisi terlentang untuk mengecek keadaan apakah Rani masih dalam kondisi tertidur pulas. Aku miringkan kepalaku ke arah kiri untuk melihat kondisi tubuh Rani yang saat ini terpisah jarak hampir setengah meter dari tubuhku.

Suara nafas Rani yang teratur sudah dapat aku dengar dari posisi ini. Aku lihat ke bagian bawah tubuh Rani, aku bisa memperhatikan lebih jelas tubuh bagian bawah Rani yang sudah tidak tertutup daster yang dipakainya. Aku dapat memastikan celana dalam model penuh yang dipakai Rani tidaklah ketat, ini bisa terlihat dari beberapa bagian celana dalamnya yang tidak menempel pada bongkahan pantat Rani, sepertinya celana dalam ini hanya dipakai saat Rani pergi tidur. Setelah yakin Rani masih tertidur pulas, aku mulai memikirkan langkah selanjutnya.

Perlahan-lahan aku geser seluruh tubuhku ke kanan untuk mendekati tubuh Rani dengan cara mengangkat sedikit tubuhku ke atas dengan bertopang pada kedua siku tanganku dan kedua tumit kaki. Aku lakukan gerakan ini beberapa kali dan dilakukan secara perlahan sampai tubuhku sudah cukup dekat dengan tubuh Rani. Kemudian aku miringkan tubuhku ke kanan sehingga posisi tubuhku saat ini tepat berhadapan dengan bagian belakang tubuh Rani, dan tubuh kami berdua hanya menyisakan jarak sekitar 5 centimeter.

Debar jantungku semakin kencang dan kuat, tidak pernah wajahku ini begitu dekat dengan tubuh Rani. Aku bisa merasakan bau harum yang berasal dari tubuh Rani. Penisku menegang sudah dalam batas maksimalnya. Sabar ya nak, sebentar lagi pasti bisa masuk ke dalam vagina Rani, aku memberikan motivasi kepada diriku sendiri.

Aku harus segera bertindak se-efisien dan se-efektif mungkin, karena suatu saat bisa saja Rani terbangun secara tiba-tiba. Posisi Rani tidur miring ke kanan, kaki kirinya tertekuk sedikit ke atas yang ditumpangkan pada guling yang dipeluknya, sedangkan kaki kanan dalam posisi lurus sedikit tertimpa guling. Dengan posisi tidur seperti ini, membuat pantatnya sedikit menungging ke belakang, serta bongkahan pantat Rani semakin menonjol dan area selangkangannya terbuka, tinggal menyingkirkan celana dalam yang masih menutupi area senggama milik Rani. Aku kesulitan kalau harus melepas celana dalam Rani, karena posisi kaki kiri Rani yang sedikit tertekuk akan menjadi penghalang apabila harus melepas celana dalam Rani. Jadi yang harus aku lakukan adalah membuat celah agar penisku dapat menerobos lubang kenikmatan milik Rani.

Aku ulurkan tangan kiriku ke arah bagian bawah tubuh Rani, tugasnya untuk membuat celah antara bibir vagina Rani dengan celana dalamnya agar batang penisku bisa menerobos masuk ke dalam vagina Rani. Aku memposisikan tangan kiriku berada di atas bongkahan pantat Rani sebelah kiri. Tidak menempel di pantat Rani, tapi sedikit di atas pantat Rani tanpa menyentuhnya. Kemudian perlahan aku selusupkan jari telunjuk kiriku di antara pinggiran celana dalam Rani dan pantat kiri Rani. Terus aku geser perlahan pinggiran celana dalam Rani sampai di celah kedua pantat Rani, sehingga pinggiran celana dalam ini tidak dapat kembali ke tempat semula karena tersangkut bongkahan pantat Rani.

Bongkahan pantat Rani sebelah kiri sudah tidak tertutup celana dalam lagi. Jari telunjuk kiriku kembali beroperasi, kali ini yang disasarnya adalah pinggiran celana dalam yang berada di pinggul Rani. Kembali aku selusupkan telunjuk kiriku di antara pinggiran celana dalam Rani dan pinggul Rani, lalu perlahan-lahan aku geser dan tarik ke arah pantat Rani sebawah mungkin, hal ini dikarenakan celana dalamnya masih tersangkut di pinggul sisi bagian bawah perut Rani. Terus aku geser bawah dan terhenti di pertengahan pantat Rani.

Jantungku masih berdebar kencang saat melakukan aksi ini. Aku arahkan kembali tangan kiriku ke dekat bagian area selangkangan Rani. Aku cubit bagian bawah celana dalam Rani yang sudah mengerut dan mengendur karena bagian atas celana dalamnya sudah bergeser di pertengahan pantat Rani, kemudian tarik ke bawah sehingga tercipta celah bagi penisku untuk menerobos lubang vagina Rani.

Aku terdiam kembali untuk mempertimbangkan langkah selanjutnya. Aku cuma perlu memastikan usahaku ini tidak akan gagal. Aku pun memutuskan untuk langsung menancapkan batang penisku ke liang senggama milik Rani, karena kalau dugaanku benar Rani sudah kehilangan selaput daranya, harusnya liang kenikmatan milik Rani lebih mudah untuk diterobos penisku.

Ukuran tubuhku yang hampir sama dengan Rani, sehingga posisi tubuhku saat ini hampir sejajar dengan posisi tubuh Rani yang membelakangiku, kepalanya tepat di depan mataku, kedua bongkahan pantatnya hanya berjarak 5 centimeter dari penisku. Dengan posisi seperti ini, akan membuatku kesulitan menacapkan batang penisku ke dalam lubang vagina Rani.

Dengan gerakan perlahan aku menurunkan posisi tubuhku ke bawah sampai posisi kepala atasku sejajar dengan bahu Rani, sehingga posisi wajahku saat ini berhadapan dengan punggung Rani. Selanjutnya aku ubah posisi kedua kakiku dengan posisi sedikit tertekuk menyesuaikan posisi tubuh Rani bagian bawah. Kemudian aku keluarkan batang penisku yang sudah dalam sikap tegak sempurna dengan menyingkap lubang celana boxerku sebelah kiri.

Aku dekatkan tangan kiriku ke mulutku dengan meluruskan jari telunjuk dan jari tengah dengan saling menempel, sedangakan jari-jari lainnya dalam posisi tertekuk. Aku himpun air liurku di ujung mulutku, kemudian aku letakkan air liurku ini di antara jari telunjuk dan jari tengah yang saling berhimpit agar tidak mudah mudah menetes atau jatuh ke bawah. Lalu aku arahkan tangan kiriku ini ke arah area selangkangan Rani.

Perlahan-lahan aku oleskan air liur yang ada di kedua jari tangan kiriku di permukaan vagina Rani. Jantungku berdebar semakin kencang saat jari tangan kiriku mulai menyentuh bulu-bulu halus yang tumbuh di area vagina Rani. Aku bisa merasakan lebatnya rambut kemaluan Rani dengan kedua jariku ini. Aku semakin tidak sabar untuk segera menancapkan batang penisku di dalam vagina Rani.

Begitu jari telunjuk dan jari tengah tangan kiriku menyentuh kulit permukaan vagina Rani, aku oleskan air liurku di area yang aku anggap paling dekat dengan lubang kenikmatan Rani. Perlahan-lahan aku oleskan dengan tetap menjaga jari tangan kiriku tidak terlalu menekan area vagina Rani. Aku oleskan seluruh air liurku yang ada di jari telunjuk dan jari tengah tangan kiriku. Kemudian perlahan-lahan aku tekan area vagina Rani dengan telunjuk kiriku untuk mencari garis vagina Rani. Setelah telunjuk kiriku menemukan garis vagina Rani, aku tekan semakin dalam ke garis vagina Rani untuk mencari posisi pasti letak lubang vagina Rani berada.

Aku tancapkan telunjuk kiriku kira-kira sedalam 2 milimeter di garis vagina Rani, aku telusuri perlahan ke arah bagian bawah vagina Rani. Bingo, akhirnya aku menemukan harta karun yang selama ini selalu aku impikan, harta karun ini adalah liang kenikmatan milik Rani. Aku tusuk jari telunjuk kiriku semakin dalam di dalam lubang vagina Rani, kira-kira sampai satu ruas jari telunjuk kiriku. Perlahan-lahan aku putar ujung telunjuk kiriku di dalam permukaan lubang vagina Rani agar lubang kenikmatannya dapat terbuka lebih lebar dan air liurku dapat membasahi area permukaan liang kenikmatan milik Rani ini. Aku lakukan penuh hati-hati agar tidak membangunkan Rani dari tidur lelapnya.

Setelah aku bisa memastikan permukaan lubang vagina Rani sudah sedikit terbuka dan air liurku sudah membasahi mulut vagina Rani, aku hentikan putaran telunjuk kiriku di mulut vagina Rani. Selanjutnya aku ambil kembali air liur dari mulutku dengan telunjuk dan jari tengah tangan kiriku, kemudian aku letakkan air liurku di ujung kepala penisku dengan tujuan mempermudah kepala penisku masuk ke dalam liang vagina Rani.

Aku memposisikan kembali pinggulku lebih mendekat ke bongkahan pantat Rani. Aku pegang pangkal batang penisku dengan tangan kiriku, kemudian aku arahkan kepala penisku ke liang vagina Rani yang sudah aku oleskan dengan air liurku sebelumnya. Kadar libido di tubuhku semakin tinggi, jantungku berdegub semakin kencang, ritme nafasku sudah tidak beraturan, dan batang penisku membesar sudah dalam batas maskimalnya.

Kepala penisku sudah mulai menyentuh permukaan lubang vagina Rani yang sudah basah dengan air liurku. Dengan dibantu tangan kiriku yang masih memegang pangkal batang penisku, kepala penisku mulai mengoyak liang vagina Rani yang sudah agak sedikit terbuka. Kemudian aku dorong masuk kepala penisku ke dalam liang kenikmatan Rani secara perlahan-lahan. Setengah centimeter, satu centimeter, dua centimeter, aku bisa merasakan sedikit demi sedikit kepala penisku merangsek masuk ke dalam liang vagina Rani.

Aku hentikan gerakanku ini setelah seluruh kepala penisku berada di dalam vagina Rani. Bisa aku rasakan kehangatan liang vagina Rani yang menyelimuti kepala penisku. Aku diam sejenak untuk membuat liang vagina Rani beradaptasi dengan kepala penisku. Aku cek kembali kondisi Rani, sepertinya dia masih tertidur pulas.

Setelah aku merasakan cengkraman vagina Rani mengendur, aku kembali memajukan pinggulku agar batang penisku terdorong lebih masuk perlahan-lahan ke dalam liang vagina Rani. Milimeter demi milimeter aku nikmati proses masuknya batang penisku ke dalam lubang vagina Rani, satu hal yang aku impikan selama bertahun-tahun ini. Gesekan batang penisku dengan dinding vagina Rani dan hangatnya cengkraman liang vagina Rani terhadap batang penisku membuat hasrat seksualku semakin tidak tertahan.

Akhirnya seluruh batang penisku sudah berada dalam cengkraman vagina Rani. Aku kembali diam sejenak untuk memastikan Rani masih tertidur dan agar vagina Rani menyesuaikan keberadaan batang penisku di dalam liangnya. Aku mengatur ritme nafasku agar lebih teratur agar aku tidak cepat ejakulasi. Aku tidak ingin saat-saat ini berlalu begitu cepat.

Setelah liang vagina Rani aku rasakan sudah mulai terbiasa dengan kehadiran batang penisku, perlahan-lahan aku memundurkan pinggulku untuk mulai memompa vagina Rani dengan batang penisku dengan bantuan pelicin dari sisa air liurku yang ikut masuk ke dalam liang vagina Rani. Aku merasakan nikmat tiada tara saat kulit penisku saling bergesekan dengan dinding vagina Rani yang masih sempit ini.

Setelah setengah batang penisku keluar dari liang vagina Rani, aku dorong kembali batang penisku masuk ke dalam liang vagina Rani. Liang vagina Rani agak terasa kesat, sepertinya air liurku yang ada di dalam vagina Rani menjadi berkurang, sedangkan liang vagina Rani belum mengeluarkan cairan pelicin alaminya. Saat batang penisku hampir masuk seluruhnya, aku merasakan adanya gerakan dari tubuh Rani. Kemungkinan tubuhnya bereaksi atas masuknya batang penisku ke dalam lubang vagina Rani tanpa didukung pelumasan yang cukup. Saatnya menjalankan rencana selanjutnya, pikirku.

“Uughh.. enak banget Risa sayang”, ucapku dengan suara pelan tapi cukup bisa terdengar di telinga Rani seandainya Rani dalam kondisi sudah terbangun. Aku mulai mengeluarkan suara-suara desahan lembut dengan menyebut nama istrku, Risa. Hal ini kulakukan agar Rani berfikir aku menyetubuhinya karena aku menyangka kalau tubuh Rani adalah tubuh Risa.

“Sshshsh haah.. meki kamu enak banget sayang”, ucapku pelan sambil terus memompa dengan lembut batang penisku ke dalam liang kenikmatan Rani.

Baru sekitar 6 kali genjotan, liang vagina Rani terasa semakin kesat. Efek pelicin dari air liurku sudah tidak ada lagi. Gesekan batang penisku dengan dinding vagina Rani semakin kuat. Membuatku semakin merasakan kenikmatan yang luar biasa. Kondisi ini membuatku tidak bisa lagi menahan ejakulasi.

Aku tidak mungkin mengeluarkan spermaku di dalam liang kenikmatan milik Rani. Saat ini aku tidak mau membuat Rani mengandung anakku. Bisa runyam dunia ini.

Aku tidak kuasa menahan ejakulasiku, segera aku cabut batang penisku dari dalam liang vagina Rani dengan cepat. Gerakanku ini sempat membuat tubuh Rani sedikit tersentak. Akan tetapi tidak aku hiraukan karena aku lebih fokus untuk mengeluarkan cairan kenikmatan dari batang penisku.

Benar saja, tepat setelah kepala penisku keluar dari lubang vagina Rani, seketika itu juga muncrat lah cairan spermaku ke arah bongkahan pantat Rani sebelah kiri. Sebelum penisku menyemprotkan cairan spermaku kedua kalinya, dengan gerakan cepat aku masukan kembali batang penisku ke dalam celana boxerku dengan tangan kiriku., lalu kemudian aku kocok batang penisku untuk melanjutkan semprotan sisa spermaku yang sempat tertahan untuk keluar di dalam celana boxer yang aku gunakan. Aku merasakan kenikmatan yang tiada tara, tubuhku seperti melayang, nikmatnya sampai terasa di ubun-ubun kepalaku.Terus aku kocok sampai rasa nikmat yang aku rasakan berangsur-angsur berkurang dan batang penisku berhenti mengeluarkan sperma.

Nafasku terengah-engah tidak beraturan akibat kenikmatan yang aku rasakan dan rasa panik karena hampir saja aku menyemprotkan spermaku di dalam liang vagina Rani. Aku berusaha membuat ritme pernafasanku menjadi kembali teratur.

Setelah nafasku kembali teratur, aku mencari sesuatu yang bisa menyeka sebagian spermaku yang berada di bongkahan pantat Rani sebelah kiri. Aku putuskan untuk menggunakan selimut yang berada di ujung kakiku. Aku jepit ujung kain selimut dengan ibu jari dan telunjuk kaki kiriku, lalu aku tarik ke arah bagian atas tubuhuku dengan menggunakan kaki kiriku sampai tangan kiriku bisa menyentuh ujung selimut.

Kemudian aku seka sebagian spermaku yang ada di pantat kiri Rani dengan tangan kiriku. Selanjutnya aku memperbaiki posisi celana dalam Rani ke posisi semula agar kembali menutupi area selangkangan dan kedua bongkahan pantat Rani, walaupun tidak bisa persis seperti semula karena sebagian celana dalamnya tertahan tubuh Rani sendiri.

Setelah aku membetulkan posisi celana dalam Rani, aku merebahkan tubuhku ke arah kiri. Aku naikkan kembali tubuhku agar sejajar dengan tubuh Rani. Kemudian aku bangkit terduduk untuk mengambil selimut, lalu aku menyelimuti bagian bawah tubuh Rani sampai bagian pinggangnya dan pinggangku.

Selanjutnya aku rebahkan kembali tubuhku di samping tubuh Rani. Kumiringkan kembali tubuhku ke kanan menghadap tubuh Rani, lalu kudekatkan kepalaku ke arah tengkuk Rani dan mengecupnya dengan lembut.

“Terima kasih Risa sayang”, ucapku setelah mengecup tengkuk Rani. Kemudian aku posisikan tubuhku terlentang untuk beranjak tidur.

Rani masih tertidur dalam posisi semula. Aku sudah tidak memperdulikan lagi apakah saat ini Rani terbangun atau tidak. Aku juga tidak mempedulikan bagian dalam celana boxerku yang basah oleh spermaku. Aku memejamkan kedua mataku. Mengigat kembali pencapaianku yang sudah meraih sesuatu yang aku impikan bertahun-tahun. Aku tidak bisa melupakan apa yang aku rasakan tadi. Bagaimana hangatnya lubang vagina Rani menyelimuti batang penisku dan bagaimana nikmatnya batang penisku bergesekan dengan dinding vagina Rani.

Tidak lama kemudian aku tertidur lelap dengan senyum puas terpancar dari wajahku.

*

Aku merasakan sentuhan-sentuhan lembut di pipi kiriku. Samar-samar aku mendengar suara yang sudah tidak asing di telingaku. Aku juga merasakan sesosok tubuh yang menempel erat tubuhku dari sebelah kiri.

449843360_122159575400224684_4499004255538471729_n Rani, affair dengan iparku

“Sayaang.. banguun..”, ucap istriku, Risa. Aku masih bergeming.

“Sayaang.. banguun..”, ucap Risa lagi.

“Hhmm..”, gumamku menanggapi ucapan Risa.

“Kamu semalam sampe jam berapa?”, tanya Risa.

“Jam 2an”, jawabku dengan mata masih tetap terpejam.

“Kamu ngga kangen ya sama aku?”, tanya Risa manja sambil menyandarkan kepalanya di dadaku dan setengah memeluk tubuhku. Aku bisa merasakan kelembutan payudara kirinya yang terbungkus bra menempel di perutku.

“Kangen kok”, ucapku singkat tapi sambil memeluk tubuhnya dengan tangan kiriku.

“Trus kenapa semalem kamu tidur sama Rani?”, tanya Risa dengan nada sedikit cemburu.

*Hahh? Maksudnya??”, jawabku dengan pura-pura kaget dan sedikit tersentak sambil membuka kedua mataku.

“Iya, semalem kamu tidur sama Rani di sini, aku kan tidurnya di sebelah. Tadi pagi Rani cerita kalau kamu tidur di sini dari semalem. Terus akhirnya dia pindah tidur di kamar sebelah begitu tau kamu tidur di sebelah dia”, ucap Risa.

“Loh kok bisa tidurnya tukeran gitu?”, tanyaku dengan perasaan was-was apakah Rani cerita tentang apa yang aku lakukan tadi malam.

“Kan semalem kamu tau kita teleponan sambil nemenin aku kerja trus ngeprint kerjaan aku di kamar Rani. Rani ngomel-ngomel kan akunya berisik. Jadi dia pindah ke sini tidurnya, butuh bangun pagi-pagi katanya”, jawab Risa.

“Bukannya hari gini harusnya dia ada di kosan ya?”, tanyaku sambil mencari pembenaran atas kejadian semalam.

“Iya kemarin sore pulang. Ada buku kuliahnya yang ketinggalan. Sekarang dia udah pergi lagi”, jawab Risa.

“Kalo begitu bukan salah aku dong”, aku melakukan pembelaan.

“Tetep salah kamu lah, tidur ngga liat-liat!”, ucap Rani dengan ketusnya.

“Jangan-jangan semalem kamu udah grepe-grepe Rani ya?”, tanya Rani sambil setengah bangkit dan memalingkan wajahnya ke wajahku serta menatap mataku penuh selidik.

“Grepe gimana? Orang semalem aku langsung tepar, capek banget”, ucapku berbohong.

“Bener?”, tanya Risa lagi masih belum percaya.

“Bener”, jawabku tegas untuk meyakinkan Risa.

“Sumpah?”, tanya Risa lagi meyakinkan dirinya.

“Suer”, jawabku sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah tangan kananku.

“Yaudah kalo begitu, aku ke kantor dulu”, sahut Risa sambil bangkit turun dari tempat tidur.

“Salim”, ucapnya berdiri di samping tempat tidur sambil mengulurkan tangan kanannya kepadaku.

Aku pun segera bangkit dari tidurku, kemudian duduk di pinggir tempat tidur persis di hadapan Risa. Aku hiraukan uluran tangan kanan Risa kepadaku. Aku langsung memeluk erat tubuhnya dengan melingkarkan tanganku di pinggangnya. Lalu kucium perut Risa yang sudah membesar.

“Sehat-sehat ya anakku sayang”, ucapku sambil terus menciumi perut Risa.

“Emaknya ngga dicium?”, tanyanya manja.

Kemudian aku berdiri di depan Risa dengan kedua tanganku masih memeluk area pinggangnya. Aku dekatkan wajahku ke wajah Risa, lalu aku lumat bibir bidadari cantik yang ada di hadapanku ini. Kami cukup lama saling berpagutan. Melepas kangen setelah hampir sebulan tidak bertemu. Tangan kananku mulai menggerayangi tubuh Risa. Mulai dari punggung sampai ke payudara kiri Risa yang masih terbungkus baju seragam kerjanya. Terus kurenas-remas payudara Risa dengan tangan kananku. Tangan kiriku masih melingkar di pinggangnya.

Nafas Risa semakin memburu tidak beraturan. Ciuman kami semakin mengganas. Aku ulurkan tangan kananku ke arah bagia bawah rok yang dipakai Risa, lalu aku coba menariknya ke atas agar tersingkap. Tapi perbuatanku ini buru-buru dihentikan oleb tangan kiri Risa.

“Udah ah, akunya jadi horny”, ucapnya lirih sambil sedikit menjauhkan wajahnya dari wajahku.

“Akunya kangen mimi”, ucapku sambil tetap berusaha mencium Risa kembali. Pipi dan mimi adalah panggilan sayang dari aku dan Risa untuk alat kelamin kami berdua.

“Sabar ya yang, nanti sore aku pulang kerja ya, udah kesiangan akunya”, jawab Risa sambil berusaha meladeni serangan ciuman yang aku layangkan.

Lalu aku melepaskan pelukanku. Kemudian tangan kanan Risa meraih tangan kananku dan diciumnya punggung tangan kananku. Selanjutnya ak berikan ciuman di keningnya dan bibirnya kembali.

“Aku berangkat ya. Assalamu’alaikum”, pamit Risa.

“Wa’alaikumsalam sayang. Aku ngga anter ke bawah ya. Masih ngantuk”, ucapku.

“Iya. Daaagh”, ucapnya. Aku antar Risa sampai pintu kamar. Setelah tubuh Risa sudah menghilang dibalik tangga, aku tutup pintu dan beranjak ke tempat tidur untuk melanjutkan tidurku kembali.

*

Paska kejadian itu, aku merasakan perubahan sikap Rani kepadaku. Rani seolah-olah berusaha untuk menghndari bertemu denganku. Kalau pun terpaksa bertemu, Rani akan pura-pura sibuk dengan sesuatu, bahkan sapaanku saja ditanggapi dengan datar. Pernah beberapa kali tatapan mata Rani bertemu dengan tatapanku. Aku bisa merasakan tatapan marah Rani kepadaku. Tetapi aku berusaha untuk santai, tidak menanggapinya agar skenarioku masih tetap bisa digunakan.

Sampai satu saat……..

aku ditelepon oleh abangku. Dia minta aku menemuinya di rumahnya malam ini. Katanya sudah lama tidak ngobrol-ngobrol denganku. Memang benar, terakhir aku ke rumahnya sekitar awal tahun ini. Entah apa yang nanti akan dibicarkan denganku.

Rumah abangku berada di daerah Jakarta Selatan. Jaraknya sekitar 27 kilometer dari rumah mertuaku. Akan tetapi waktu tempuhnya hampir 1 jam, apalagi kalau Sabtu malam,.waktu tempuhnya bisa mencapai 2 kali lipatnya. Aku sudah bilang ke abangku kalau aku akan sampai rumahnya sekitar jam 10 malam. Kami biasa ngobrol-ngobrol di atas jam 9 malam, lebih karena kesibukan abangku akan berkurang bila malam tiba.

Aku berangkat dari Bandung menuju rumah mertuaku sekitar jam 8 pagi, karena aku khawatir akan terkena macet jika berangkat lebih siang. Aku berencana berleha-leha terlebih dahulu di rumah mertuaku sampai malam tiba. Sebenarnya hari ini aku tidak ada rencana untuk pulang ke rumah mertuaku, karena Risa sedang diajak oleh mertuaku pulang kampung ke Surabaya. Mereka memanfaatkan long weekend dengan hari kejepit di hari Jumat. Aku juga tidak mengerti kepentingannya apa sampai harus Risa yang sedang mengandung 8 bulan diajak ikut serta ke Surabaya. Mereka pergi naik kereta, karena sangat riskan bagi kandungan Risa kalau naik pesawat.

Aku sampai di rumah mertuaku sekitar pukul 11 pagi. Saat itu kondisi rumah mertuaku hanya ada sepupu istriku namanya Mba Isty. Mba Isty ini anak dari kakak ibu mertuaku, itu sebabnya kami semua anak menantu mertuaku memanggilnya ada tambahan kata Mba, walaupun usianya di bawah usia Risa tetapi di lebih tua dari Rani. Perawakan Mba Isty ini tinggi sekitar 150 centimeter, bertubuh gemuk, dan berkulit coklat. Yang menarik perhatianku dari Mba Isty adalah pantatnya yang bohay dan payudaranya yang besar sekali berukuran sekitar 36D. Mba Isty memang sengaja tinggal di rumah mertuaku sejak 2 bulan lalu karena diterima bekerja di kantor tempat bapak mertuaku bekerja. Awalnya Mba Isty memilih untuk tinggal di kosan, akan tetapi dilarang oleh ibu mertuaku dikarenakan sayang uangnya dan masih ada kamar kosong di rumah mertuaku ini. Akhirnya Mba Isty menempati kamar kosong yang ada di lantai 1 rumah mertuaku yang memang sejak semula diperuntukan untuk saudara yang menginap.

Saat aku datang, pintu samping rumah mertuaku yang ke arah dapur dalam keadaan terbuka. Aku lihat Mba Isty sedang memasak sesuatu. Aku masuk lewat pintu samping itu. Aku menegurnya terlebih dahulu karena posisi Mba Isty memasak membelakangi pintu. Dia tidak kaget, artinya Mba Isty sudah mengetahui kedatanganku ini. Mba Isty sempat menawarkan masakan yang sedang dia buat, tapi aku tolak dengan sopan karena aku sudah membeli makanan siap saji di area istirahat sekalian aku mengisi bahan bakar mobilku. Malah aku tawarkan balik ke Mba Isty, tapi dia juga menolak dengan halus. Selanjurnya aku pamit ke Mba Isty untuk menuju kamarku di lantai 2.

Setelah sampai kamar, aku langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Niat awalnya hanya untuk merelaksasi tubuhku setelah hampir 3 jam berkendara, akan tetapi aku tertidur lelap tidak lama kemudian.

Aku terbangun sekitar jam 1 siang. Aku masih terjaga di tempat tidur, perutku terasa lapar. Kemudian aku bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Selanjutnya aku kembali ke kamar untuk memakan makanan yang sempat aku beli saat perjalanan menuju ke rumah mertuaku. Akan tetapi aku lupa membawa peralatan makan dari lantai bawah tadi. Aku pun memutuskan untuk beranjak ke lantai bawah dan memakan makan siangku ini di meja makan saja.

Aku lihat Rani sedang makan di meja makan sambil memainkan ponselnya. Rani sempat melihat ke arahku saat aku tiba di meja makan, tatapan mata kami sempat beradu, tapi kemudian cepat-cepat Rani memalingkan pandandangannya kembali ke ponselnya.

“Baru nyampe Ran?”, sapaku untuk berbasa-basi sambil meletakan makanan yang aku bawa ke atas meja makan. Tapi tidak ada tanggapan dari Rani sama sekali. Aku coba tidak menghiraukan sikap dingin Rani kepadaku ini. Aku ambil piring dan gelas dari rak peralatan makan, keduanya aku letakan di meja makan.

“Mau ngga Ran?”, tanyaku ke Rani menawarkan makanan yang aku bawa sambil aku keluarkan makanan itu dari kantongnya. Rani tetap tidak merespon pertanyaanku.

Aku berjalan ke lemari pendingin yang ada di belakang Rani duduk. Aku buka pintunya lalu kuambil botol berisi air putih dingin dengam tangan kanan dari dalam lemari pendingin, kemudian pintunya aku tutup kembali.

“Woy diem aja dari tadi diajak ngomong juga”, kataku sambil menepuk ringan pundak kanan Rani dengan tangan kiriku.

“Apaan sih pake pegang-pegang segala?! Jijik!!”, ucap Rani setengah teriak sambil menepis tangan kiriku dari pundak kanannya dengan tangan kanannya. Kemudian Rani berdiri dengan kasar, diambilnya piring berisi makanan yang sedang dia makan dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih tetap memegang ponselnya. Lalu dengan gerakan cepat, Rani berjalan menuju kamar tidur mertuaku sambil membawa piring berisi makanan yang tadi sedang dimakannya.

Aku sangat terkejut melihat sikap Rani yang begitu kasar kepadaku, sampai terbengong-bengong dibuatnya. Aku segera tersadar oleh suara pintu kamar mertuaku yang ditutup Rani dengan cukup keras. Aku cuma bisa menghela nafas panjang. Kemudian aku duduk di kursi makan tempat makananku yang tadi sudah aku siapkan. Aku menyantap makan siangku sambil memikirkan sikap Rani kepadaku sebelumnya. Aku paham kalau ini salahku, tapi tidak mungkin kan aku mengakuinya, itu sama saja mengacaukan skenario yang sudah aku susun.

Aku segera menghabiskan makan siangku. Kemudian aku pergi ke lantainatas menuju ke kamarku. Aku memang berencana melanjutkan istirahat siangku, menyimpan energi untuk malam hari, karena ada kemungkinan aku bertemu dengan abangku sampai dini hari. Tapi ternyata aku tidak bisa langsung tertdiur, pikiranku masih mengingat sikap Rani kepadaku tadi. Akhirnya aku memutuskan untuk menonton DVD yang belum sempat aku tonton. Belum sampai film habis, aku kembali ketiduran.

Sekitar pukul setengah 7 malam aku terbangun. Aku keluar kamar untuk pergi mandi. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, aku kembali turun ke bawah menuju dapur. Perutku lapar, aku berencana memasak mie instan sebagai makan malamku.

Saat aku turun, aku lihat Rani sedang duduk di ruang tamu bersama Doni, pacar Rani. Mereka baru berpacaran sekita 2 bulan yang lalu. Doni ini bisa dibilang ganteng, tubuhnya lebih tinggi dariku sekitar 5 centimeter, berkulit putih kecoklatan, dan memakai kacamat. Usianya lebih tua dari Rani sekitar 2 tahun. Anaknya cukup sopan, karena begitu melihatku menuruni tangga, Doni langsung manghampiriku dan menjulurkan tangannya untuk menjabat tanganku. Aku menyambut jabat tangan sambil berbasa-basi menanyakan kabarnya. Selanjutnya aku pamit ke dapur untuk memasak mie instan. Aku sempat merasakan tatapan sinis Rani kepadaku saat aku basa-basi dengan Doni.

Saat di dapur, aku kembali bertemu dengan Mba Isty. Dia sedang mencuci peralatan makan bekas digunakannya untuk makan malam. Aku lihat Mba Isty berpakaian rapih menggunakan seragam kerjanya. Aku sempat basa-basi apakah Mba Isty baru.pulang bekerja, tapi Mba Isty menjawab malah baru mau berangkat kerja, dia dapat giliran bekerja malam untuk hari ini, dengan jam masuk kerja pukul 8 malam. Tempat kerjanya tidak jauh dari mertuaku ini, hanya memakan waktu sekitar 10 menit dengan menggunakan sepeda motor.

Aku mulai memasak mie instan, saat Mba Isty pamit kepadaku untuk menuju kamarnya dan mempersiapkan segala sesuatunya sebelum dia berangkat bekerja. Setelah aku selesai masak, mie instan hasil masakanku ini aku bawa ke atas, ke kamarku. Aku berencana menyantap makan malamku ini di kamarku saja sambil melanjutkan menonton film yang belum tuntas aku tonton karena aku sempat ketiduran tadi. Selain itu pula, aku menghindari tatapan tidak mengenakan dari Rani kepadaku apabila aku makan di meja makan.

Belum selesai aku selesai melanjutkan menonton film, aku sayup-sayup mendengar suara keributan dari arah lantai bawah. Aku kecilkan volume suara di televisi untuk mendengarkan lebih jelas keributan apa yang ada di lantai bawah. Sumber keributan ternyata berasal dari suara keras Rani, aku tidak bisa mendengar secara jelas apa yang diucapkan Rani seluruhnya, akan tetapi aku bisa memahami kondisi di lantai bawah, rupanya Rani sedang berselisih dengan pacarnya. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu ditutup dengan kasar sehingga menimbul suara yang cukup kencang. Kemudian suasana di lantai bawah kembali tenang. Aku kembali melanjutkan menonton film yang sepertinya masih tersisa beberapa menit lagi.

Jam 9 kurang aku selesai merapihkan diri untuk pergi ke rumah abangku. Aku beranjak keluar kamar dan turun ke lantai bawah. Suasana di lantai bawah sangat tenang, hanya sayup-sayup terdengar suara mesin dari lemari pendingin saja. Aku membuka pintu depan rumah dan menuju garasi untuk memanaskan mesin mobilku, sambil mengecek keberadaan alas kaki Rani untuk memastikan apakah Rani masih ada di rumah atau pergi dengan pacarnya. Aku melihat alas kaki Rani masih ada di rak alas kaki, tapi bisa saja Rani keluar rumah menggunakan alas kaki miliknya yang lain.

Setelah menyalakan mesin mobilku, aku kembali masuk ke dalam kamar untuk memastikan keberadaan Rani. Meskipun aku mempunyai kunci rumah ini, aku harus tetap pamit terlebih dahulu ke Rani, karena apa pun itu saat ini Rani adalah tuan rumah mertuaku ini. Lagi pula aku harus memberitahukan Rani soal kepergianku, karena berarti Rani harus seorang diri berada di rumah mertuaku.

Aku langsung menuju kamar tidur mertuaku, kalaupun Rani masih ada di rumah, aku yakin Rani berada di kamar mertuaku. Karena aku tidak mendengar keberadaan Rani di kamarnya yang bersebelahan dengan kamarku dan juga memang kebiasaan Rani yang selalu tidur di kamar orang tuanya apabila mertuaku itu sedang bepergian keluar kota.

“Ran.. Rani..”, sahutku dengan suara sedang sambil mengetuk pintu kamar tidur mertuaku. Aku tunggu sejenak, tidak ada respon dari dalam kamar. Aku ulangi kembali memanggil nama Rani sambil mengetuk pintu. Aku sejenak kembali, tetap tidak ada respon apa-apa dari dalam kamar. Aku ulang kembali ketiga kalinya mengetuk pintu kamar dan memanggil nama Rani. Akan tetapi masih tidak ada respon dari dalam kamar.

Aku mengurungkan niatku untuk membuka pintu kamar mertuaku untuk memastikan apakah keadaan di dalam kamar mertuaku, karena menurutku itu tidak sopan. Bisa juga sebenarnya Rani ada di dalam kamar mertuaku, tetapi Rani tidak mau merespon karena masih marah kepadaku.

“Ran, gue pergi ke rumah abang gue dulu ya”, sahutku dengan suara lebih keras agar bisa terdengar jelas oleh Rani jika memang Rani berada di dalam kamar mertuaku. Kemudian aku melangkah menuju pintu depan rumah mertuaku.

Saat aku hendak menutup pintu depan rumahku, aku mendengar suara pintu terbuka dari arah dalam rumah, diikuti dengan munculnya Rani ke ruang tamu rumah mertuaku. Aku hentikan gerakan menutup pintunya. Rani berdiri mematung di ujung ruang tamu yang terdekat dari kamar tidur mertuaku. Mukanya terlihat berantakan, matanya yang sembab menatap tajam ke arah pintu depan rumahku tempat aku berdiri. Rani memakai daster lengan pendek dengan panjang sedikit di bawah lututnya, sedangkan dasternya berwarna merah muda dengan motif bunga dominan warna kuning. Masih terlihat kecantikan Rani walaupun raut wajahnya terlihat berantakan.

Kami salng bertatapan tanpa kata selama beberapa detik, sebelum aku memulai percakapan. “Gue jalan dulu ya, mau ke rumah abang gue”, sahutku memecah kesunyian.

“Pergi malem-malem, mentang-mentang ngga ada Mba Risa”, ucap Rani ketus menanggapi ucapanku. Rani masih telihat marah kepadaku.

Aku tersenum tipis. “Udah bilang Risa kok”, ucapku menanggapi ucapan Rani sambil menggerakan tanganku untuk menutup pintu depan rumah mertuaku.

“Nanti dulu! Aku masih belum selesai!”, sahut Rani dengan nada tinggi sambil menghentakkan kaki kanannya ke lantai melampiaskan betapa marahnya Rani saat ini.

“Apaan sih?!”, balasku dengan nada mulai naik karena aku sudah mulai kesal dengan tingkah Rani. Aku menatap tajam ke arah Rani. Kuhentikan niatku untuk menutup pintu.

“Ada apa? Mau ngapain?”, tanyaku lagi dengan menurunkan nada suaraku.

“Aku mau ngomong sama Mas!”, jawabnya masih dengan nada tinggi. Kemudian Rani duduk di kursi yang terdekat dari Rani berdiri. Badannya tegak bersandar pada sandaran kursi. Kedua lututnya mulus tersingkap karena dasternya tertarik akibat Rani duduk. Kedua tangannya terkepal di sandarkan pada lengan kursi, tubuhnya gelisah, seperti menahan amarah yang teramat sangat.

Kursi tamu di ruang tamu rumah mertuaku ada 4, yaitu 2 kursi untuk 1 orang, 1 kursi untuk 3 orang, dan 1 kursi untuk 2 orang. Posisinya ada di 4 sisi yang saling berhadapan. Kursinya terbuat dari rangka kayu jati yang diukir, dengan balutan kulit berwarna coklat muda. Rani duduk di kursi yang hanya muat untuk 1 orang, posisinya menghadap ke arah pintu depan. Di depanku, ada kursi yang muat untuk 1 orang juga menghadap ke arah Rani duduk. Di sisi sebelah kanan, terdapat kursi untuk 3 orang, dipepetkan ke tembok, sedangkan kursi untuk 2 orang berada di seberangnya atau di sisi kiri dari tempatku berdiri saat ini. Di tengah-tengah kursi-kursi ini terdapat meja persegi panjang terbuat dari kayu jati juga, dengan sisi meja yang pendek berada di sisi kursi yang pendek pula, di atas meja terdapat vas bunga dan bunga yang sama-sama terbuat dari kristal.

Aku mengambil tempat di kursi yang ada di depanku. Tatapan mata tajam dari Rani mengiringi aku duduk. “Ada apa Ran?, tanyaku tanpa basa basi.

“Mas Rio kurang ajar sama aku!”, jawab Rani dengan nada tinggi.

“Kurang ajar gimana maksudnya?”, tanyaku sambil menahan kegugupanku. Dadaku berdebar kencang, aku sudah bisa membaca arah pembicaraan aku dan Rani.

*Mas Rio udah perkosa aku!!”, jawab Rani dengan nada semakin tinggi, matanya semakin melotot manatapku. Seperti dugaanku, akhirnya Rani akan membahas kejadian malam itu.

“Perkosa gimana maksud lo?”, tanyaku kembali mencoba untuk tetap tenang dan memasang mimik wajah terkejut.

“Pura-pura bego lagi!”, sahut Rani sambil menggele-gelengkan kepalanya berkali-kali seolah-olah tidak percaya atas jawabanku. “Dasar cowok kurang ajar!!”, sahut Rani kembali sambil menuding telunjuknya ke arahku.

“Sabar Ran, sabar”, ucapku seolah-olah berusaha menenangkan Rani. “Gue ngga paham maksud elo apa?”, ucapku lagi dengan memasang muka tidak paham atas apa yang diucapkan Rani.

“Pokoknya Mas Rio udah perkosa gue! Malem-malem! Tanggal 7 Januari! Waktu gue tidur! Di kamar Mba Risa! Ingeett?!?!”, jawab Rani dengan ketus.

“Nanti dulu, nanti dulu”, sahutku sambil pura-pura berusaha mengingat tanggal yang disebutkan Rani.

“Seinget gue, kalo tanggal segitu, mmm.. harusnya gue baru balik posko, kalo ngga salah emang malem sih sampe sini. Mmm.. trus begituan ngga ya..” ucapku polos pura-pura mengingat kembali kejadian tanggal 7 Januari dan seolah-olah tidak ada suatu kejadian yang penting.

Rani masih menatapku tajam seperti hendak menerkamku. Matanya sudah mulai berkaca-kaca.

“Oh iya gue inget, malem itu gue emang begituan tapi ya pasti sama Risa lah”, ucapku dengan polosnya.

“Bukan Mas, bukan. Itu bukan Mba Risa”, sahut Rani sambil mengeleng-gelengkan kepalanya seolah-olah tidak percaya atas ucapanku. “Itu aku Mas, itu akuuu!!!, jerit Rani dan seketika itu tangisnya pun pecah. Air matanya mengalir jatuh di kedua pipinya.

“itu aku Mas, itu aku, bukan Mba Risa…”, sahut Rani di sela tangisnya.

“…Mas Rio udah perkosa aku… Mas Rio kenapa sih tega sama aku.. “, ucap Rani lagi. Air mata Rani mengalir bertambah deras, tatapannya kepadaku bukan lagi marah melainkan sedih. Aku cuma bisa terdiam memandang Rani.

“…Mas Rio jahat sama aku.. Mas Rio ngga tau gimana sakitnya aku.. Mas Rio udah ngelecehin aku sampe kaya begitu.. Aku udah hina banget buat Mas Rio..”, ucap Rani dalam tangisnya. Kemudian Rani menundukkan wajahnya dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

“…emang semua cowok sama aja.. brengsek semua.. cuma mau sama badan aku aja.. ngga ada yang bener-bener sayang sama aku.. semuanya brengsek..”, ucap Rani dalam isak tangisnya yang semakin kencang.

Aku memang pada dasarnya mempunyai hati yang lemah terhadap wanita, apalagi kalau melihat wanita yang sedang menangis. Langsung timbul rasa bersalahku kepada Rani saat itu juga. Aku tidak menyangka ternyata akibatnya bisa sampai seperti itu. Aku pikir apa yang telah aku lakukan kepada Rani beberapa bulan yang lalu itu tidak mempunyai efek sampai sebesar ini. Perasaan menyesal langsung muncul dari dalam hatiku.

Rani masih saja tenggelam dalam tangisnya. Kepalanya tertunduk dengan kedua telapak tangannya masih menutupi wajahnya. Aku yang sudah merasa bersalah atas apa yang telah aku lakukan terhadap Rani, menjadi semakin tidak enak hati.

Aku bangkit dari tempat duduk dan melangkah menghampiri Rani. Aku mengambil posisi di hadapan Rani, kemudian aku duduk di meja tepat di hadapannya. Kedua lututku dan lutut Rani hampir saling bersentuhan, karena jarak antara kursi yang Rani tempati dengan meja yang aku duduki tidaklah jauh, hanya sekitar 50 centimeter. Isak tangis Rani masih terdengar jelas.

Aku membungkukkan badanku condong ke depan ke arah Rani. Kudekatkan sedekat mungkin wajahku ke kepala Rani yang masih menunduk. Aku letakkan tangan kiriku di atas lutut kiriku untuk menopang berat badanku, kemudian aku arahkan tangan kananku ke lengan kiri Rani. Lalu dengan perlahan-lahan dan lembut aku usap lengan kiri Rani. Terus aku usap lengan kiri Rani dengan sentuhan selembut mungkin, mencoba menenangkan Rani dengan sentuhanku. Aku biarkan sejenak Rani meluapkan seluruh emosinya dalam tangisnya.

Saat isak tangis Rani sedikit mereda, aku beranikan diri untuk bicara kepada Rani. Dengan suara serendah dan seberat mungkin aku berkata kepada Rani, “Ran… gue minta maaf..”

“Gue minta maaf karena udah bikin elo begini. Sumpah, gue sama sekali ngga nyangka kalo itu elo Ran”, ucapku kembali sambil sedikit berbohong. “Gue pikir itu Risa.. maafin gue Ran..”, lanjutku sambil tetap mengusap lengan kiri Rani dengan lembut.

Aku diam sejenak, aku biarkan Rani mencerna apa yang tadi aku ucapkan. Rani tidak memberikan respon apa-apa atas permintaan maafku kepadanya. Selang 5 detik kemudian aku lanjutkan berbicara, “Ran, ngga pernah sedikit pun di hati dan pikiran gue buat nyakitin elo Ran.. Apalagi sampe ngelecehin atau bikin elo ngerasa terhina Ran..”, ucapku tetap dengan suara rendah dan sehalus mungkin, agar Rani bisa merasakan ketulusan hati aku.

“Elo udah kenal gue lama Ran,” lanjutku kembali. “Gue ngga akan berani macem-macem sama elo”, ucapku meyakinkan Rani.

“Malah selama ini gue pengen ngelindungin elo Ran. Gue ikut sedih kalo elo disakitin sama mantan-mantan elo. Rasanya pengen gue hajar itu mantan-mantan elo yang udah nyakitin elo. Tapi gue sadar keterbatasan kondisi gue. Gue cuma bisa perhatiin elo aja”, lanjutku kembali.

“Elo inget kan, beberapa kali elo gue ajak ikut jalan-jalan keluar kota bareng Risa dan anak-anak gue. Itu gue yang minta ke Risa buat ajak elo. Karena gue tau saat itu elo lagi sedih karena mantan-mantan elo”, ucapku kembali meyakinkan Rani. Rani masih terdiam tertunduk, tapi isak tangisnya sudah tidak terdengar lagi.

“Gue nganggep elo udah lebih dari adik sendiri. Gue pengen selalu bisa ngelindungin elo”, ucapku. “Karena gue… Gue sayang elo Ran..”, ucapku sedikit tercekat.

Aku bisa melihat Rani terkejut saat mendengar ucapanku yang terkahir. Tubuhnya sedikit tersentak. Perlahan-lahan Rani membuka wajahnya yang ditutup kedua tangannya. Kemudian Rani mengangkat wajahnya menghadap ke arah wajahku. Ditatapnya wajahku dengan wajah setengah tidak percaya atas ucapaku tadi.

Aku balas tatapan Rani dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang. Aku berikan senyum yang tulus untuk lebih meyakinkan Rani atas ucapanku.

“Mas serius yang barusan?”, tanya Rani dengan suara lirih.

Aku raih kedua tangan Rani dan aku genggam kedua tangan Rani dengan kedua tanganku, lalu aku usap dengan lembut. “Sangat serius”, jawabku sambil tersenyum tulus.

Sambil menundukkan wajahnya, Rani berucap dengan suara sedikit tercekat, “Aku sayang Mas Rio juga”.

Ucapan Rani sontak membuatku terkejut. Aku tidak menyangka akan mendapat tanggapan Rani secapat itu. Rani membalas genggaman tanganku dengan juga menggenggam tanganku erat.

Aku pun beranjak dari dudukku. Aku mendekat ke arah tubuh Rani dengan berdiri dengan bertopang pada kedua lututku. Aku lepaskan kedua tanganku dari genggaman Rani. Kemudian aku letakkan kedua tanganku di kedua pipinya. Lalu aku angkat wajahnya dengan lembut agar menghadap wajahku. Kami pun saling berpandangan. Aku usap sisa air mata yang ada di pipi Rani menggunakan ibu jari kanan dan kiriku.

“Beneran?”, tanyaku meyakinkan Rani. Rani menjawab dengan anggukan kecil, wajahnya sedikit tersipu malu. Tidak ada lagi pancaran sedih atau marah dari tatapan mata Rani, yang aku lihat adalah tatapan bahagia. Langsung kudekap tubuh Rani ke tubuhku, Rani pun membalas dekapanku denvan erat. Kami pun saling berpelukan, kedua tanganku melingkari bahunya, sedangkan kedua tangan Rani melingkari pinggangku.Kepalanya ada di atas bahu kiriku, begitu juga kepalaku berada di atas bahu kiri Rani.

Selanjutnya aku posisikan tangan kananku di bagian belakang kepala Rani, kubelai lembut kepalanya. Sedangkan tangan kiriku mengelus lembut punggung Rani. Kami berdua sangat menikmati momen ini. Kami saling menyampaikan sayang dengan bahasa tubuh maaing-masing. Aku bisa merasakan rasa sayang Rani kepadaku dengan caranya memelukku yang seolah-olah berusaha lebih erat pelukannya seperti tidak ingin melepaskanku walau sesaat. Kami berdua hanyut dalam perasaan sayang masing-masing.

“Aku takut Mas”, ucap Rani pelan setelah sekian lama kami berdua terdiam menikmati suasana.

“Takut kenapa?”, tanyaku tanpa mengubah posisi pelukanku.

“Takut Mba Risa”, jawab Rani singkat. “Aku udah khianatin Mba Risa”, lanjut Rani.

“Ngga boleh begitu, kita ngga bisa milih akan jatuh cinta ke siapa, cinta datang dengan sendirinya”, ucapku berusaha bijak. “Yang penting, gue bisa tau perasaan kita sama”, lanjutku.

“Iya Mas”, ucap Rani. “Aku sayang banget sama Mas Rio”, lanjut Rani kembali sambil memelukku semakin erat. Kemudian diusapnya lembut bagian bawah punggungku menggunakan tangan kanannya.

“Gue juga Ran”, balasku lembut dengan kedua tanganku tetap membelai kepalanya dan punggungnya. Kami kembali saling terdiam.

Aku mulai menyadari kalau Rani tidak memakai bra. Aku bisa merasakan kedua payudara Rani menempel lembut di dadaku tanpa ada halangan bra, hanya terhalang dasternya dan baju yang aku pakai. Perlahan-lahan batang penisku mulai mengeras. Ditambah lagi posisi tubuhku saat ini berdiri menggunakan kedua lututku berada di antara kedua pahanya, aku bisa melihat paha kirinya yang putih mulus, walaupun tidak seputih paha Risa istriku, akibat dasternya yang tersingkap hampir sampai ke pangkal pahanya.

“Mas ngga jadi pergi”, ucap Rani kembali memecah keheningan.

“Ngga kayanya. Lebih enak di sini. Bisa kaya gini terus”, ucapku sedikit manja.

“Dasar”, ucap Rani singkat, tapi aku bisa merasakan kegembiraan dari nada bicara Rani.

“Emang kalo di sini mau ngapain?”, tanya Rani kembali sedikit menggodaku.

“Maunya ngapain?”, ucapku berbalik menggoda Rani.

“Ya ngga tau, kan Mas yang maunya di sini”, ucap Rani dengan nada manja.

“Mau kaya gini terus aja”, ucapku sambil mengecup leher Rani lembut.

“Selamanya?”, tanya Rani manja.

“Selama-lamanya”, jawabku penuh rasa sayang. Rani membalas dengan ciuman lembut di leher kiriku.

Kami berdua kembali terdiam, perasaan kami berdua kembali terhanyut menikmati momen penuh sayang yabg tercipta saat ini.

Tiba-tiba Rani mengangkat kepalanya dari sandaran di atas bahu kiriku dan menghentikan usapannya di punggung bawahku. “Mas, itu mobil gapapa masih nyala?”, tanya Rani.

“Astaga gue lupa”, sahutku sedikit terlonjak kaget. Aku mengangkat kepalaku dari sandaran bahu kiri Rani. Pelukan kami mengendur. Posisi kami pun berubah menjadi wajah kami saling berhadapan sekitar 10 centimeter. Rani tersenyum kepadaku, aku pun membalas senyuman Rani.

“Cantik”, gumamku pelan. Rani menanggapinya dengan senyum yang semakin lebar, menambah kecantikannya malam itu.

Insting laki-lakiku pun tergugah, perlahan-lahan aku dekatkan wajahku ke wajah Rani. Rani terdiam menyambut kedatangan wajahku yang mendekati wajahnya. Lalu kukecup lembut bibir Rani yang mulutnya sudah setengah terbuka, sepertinya Rani sudah siap menyambut kedatangan bibirku di bibirnya. Kuulangi kecupan lembut di bibir Rani, Rani pun membalas dengan kecupan pula.

Melihat Rani membalas kecupanku dengan kecupan juga, selanjutnya aku cium kedua bibir Rani. Rani pun membalas ciumanku dengan mulai melumat bibirku dengan bibirnya. Aku cium kedua bibir Rani dengan lembut dan penuh rasa sayang. Aku pun bisa merasakan ciuman Rani yang penuh rasa sayang pula. Bibir kami berdua saling berpagutan perlahan-lahan, bukan nafsu, tetapi melainkan rasa sayang yang kami berdua rasakan.

Kedua tangan Rani dilingkarkan ke leherku, sedangkan kedua tanganku aku lingkarkan di pinggang Rani. Tubuh kami menjadi berpelukan kembali. Saling mendekap erat, mengikuti irama ciuman kami yang penuh rasa sayang, seakan-akan tidak ada satu pun dari kami yang rela melepaskan satu sama lain.

Aku tidak sadar berapa lama kami berciuman, sampai Rani yang menyudahi ciuman kami. “Engap Mas”, ucap Rani lembut sambil menghentikan ciumannya, tetapi kedua bibirnya masih menyentuh kedua bibirku. Diberikannya kecupan-kecupan kecil di bibirku seolah-olah masih tidak rela mengakhiri ciuman kami.

Kemudian dijauhkan wajahnya dari wajahku sekitar 15 centimeter. Lalu dengan tangan kanannya, diusap lembut pipi kiriku. Diusapnya mulai dari bagian pelipis kiriku, turun ke pipi, lalu sampai ke dagu. Diulangnya sampai sekitar 4 kali.

Setelah itu kepalanya tertunduk. Kedua tangannya mengusap lembut dadaku menggunakana ujung jari-jari tangannya. “Aku masih ngerasa ini mimpi Mas”, ucapnya lirih.

Aku berikan kecupan lembut di kening Rani. Kubiarkan bibirku lama menyentuh kening Rani. Aku kecup lembut keningnya tanpa melepaskan sentuhan bibirku dari keningnya.

“Udah sana Mas matiin dulu mobilnya, entar meledak”, ucapnya sambil sambil tersenyum dengan sedikit mendorong tubuhku menjauh dari tubuhnya.

“Iya”, jawabku sambil bangkit berdiri dan beranjak menuju ke arah garasi.

Baru beberapa langkah menuju garasi, aku menghentikan langkahku dan membalikan tubuhku ke arah Rani. “Elo udah makan Ran”, tanyaku.

“Belum”, jawabya singkat sambil menggeleng pelan kepalanya.

“Mau gue beliin makanan?”, tanyaku. “Elo lagi pengen makan apa?”, tanyaku lagi.

“Ngga usah Mas, itu masih ada tadi Mba Isty masak”, jawab Rani.

“Yaudah sana siapin makanan dulu, nanti gue temenin makan”, sahutku.

“Asyiikk”, ucap Rani riang sambil beranjak dari duduknya menuju ruang makan. Sama sekali sudah tidak ada kesedihan dan kemarahan yabg terpancar dari Rani.

Aku segera bergegas menuju garasi rumah untuk mematikan mesin mobilku yang masih menyala. Sudah hampir 1 jam mobilku dibiarkan menyala. Sefelah mematikan mesin mobilku dan mengambil kembali tasku dari dalam mobil, aku menuju ke pintu pagar rumah mertuaku ini untuk mengunci kembali pintu pagar yang sebelumnya sempat aku buka kunci gemboknya. Selanjutnya setelah memastikan pintu pagar dan mobil sudah keadaan terkunci, aku masuk ke dalam rumah mertuaku dan mengunci pintu depan, tidak lupa juga aku mengambil anak kunci dr lubang kunci dan tidak mengunci selot pintu, agar Mba Isty bisa membuka pintu saat dia pulang kerja.

Kemudian aku menuju kamarku di lantai atas untuk berganti pakaianku, sebelumnya aku beritahu Rani dahulu kalau aku hendak mengganti pakaianku. Sesampainya di kamarku, aku langsung telepon Abangku memberitahukan kalau aku tidak jadi datang ke rumahnya. Aku beralasan badanku tiba-tiba kurang fit. Abangku pun memakluminya. Aku memilih memakai kaos oblong warna hitam dan celana boxer warna biru tua yang panjangnya hanya 10 centimeter dari selangkanganku. Selanjutnya aku turun kembali ke lantai bawah untuk menemani Rani makan.

Aku lihat Rani sudah bersiap untuk makan, piring berisi makan malamnya sudah siap untuk disantap Rani. Rupanya Rani menunggu kedatanganku terlebih dahulu untuk menemaninya makan. Rani sempat menawariku ikut makan bersamanya, bahkan Rani hendak berdiri untuk mengambil makanan untuk aku makan, namun buru-buru aku tolak secara halus, karena memang aku sudah kenyang karena makan mie instan sebelumnya.

Aku mengambil tempat duduk di samping kiri Rani. Aku menemani Rani makan dengan mengobrol hal-hal yang ringan, mulai dari rasa makanan yang saat ini Rani makan sampai dengan kabar perkuliahan yang sedang dilaluinya itu. Lebih banyak Rani yang mendominasi obrolan kami, peranku hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana tetapi memancing cerita yang panjang dari Rani.

Aku mendengarkan cerita Rani sambil tangan kananku membelai tubuh Rani. Sesekali kubelai rambutnya, kusentuh pipi kirinnya, maupun mengusap lembut punggungnya. Aku ungkapkan bahasa sayangku dengan memberikan sentuhan-sentuhan lembut ke tubuh Rani. Aku lihat Rani sangat menikmati ini, wajahnya sumringah, matanya berbinar, bercerita dengan semangat, dan kadang aku menggodanya yang membuat diri Rani menjadi tersipu malu yang membuat kami berdua tertawa bersama.

Tidak terasa sudah cukup lama makanan di piring Rani sudah kosong. Rani pun pamit ke dapur untuk mencuci peralatan makan yang tadi digunakannya. Aku menunggunya dengan menonton televisi yang ada di ruang keluarga bersebelahan dengan ruang makan. Aku ubah posisi kursi yang aku duduki menjadi menghadap ke arah televisi yang sebenarnya sudah sejak tadi menyala, akan tetapi justru malah bukan kami yang menonton televisi melainkan televisi yang menonton adegan penuh kemesraan yang kami berdua lakukan.

Selesai mencuci peralatan makan di dapur, Rani berjalan menghampiriku. Dengan senyum terbaiknya, Rani memandangku. “Mau ngapain lagi Mas?”, tanya Rani setelah berada tepat di hadapanku.

“Sini duduk”, ucapku sambil menepuk kedua paha atasku diiringi tatapan menggoda kepada Rani.

Ajakan iseng ini malah ditanggapi serius oleh Rani. Rani pun langsung mendekatiku, kedua kakinya mengangkang di atas kedua pahaku, kemudian Rani duduk di atas kedua pahaku dekat pangkal pahaku. Dilingkarinya kepalaku dengan kedua tangannya, lalu disandarkan kedua tangannya di atas sandaran kursi makan yang aku duduki. Aku pun menyambutnya dengan melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya. Selanjutnya aku tarik tubuhnya agar lebih mendekat dengan tubuhku. Hal ini sontaj membuat batang penisku mengeras karena tertindih oleh hangatnya selangkangan Rani. Aku tidak mengetahui apakah Rani sadar batang penisku yang mengeras tepat di atas vaginanya yang masih terbungkus celana dalamnya.

Aku dekatkan wajahku ke wajah Rani hingga hidung kami saling bersentuhan. Aku usap-usap dengan lembut hidung Rani menggunakan ujung hidungku. Rani menikmati permainanku ini, matanya terpejam merasakan bahasa sayang dari aku untuknya. Selanjutnya aku mulai mengecup lembut hidung Rani, berlanjut ke pipi Rani, kemudian pipi kanannya, lalu jidatnya, kemudian turun ke dagunya, lalu naik ke atas ke bibirnya. Aku kecup lembut bibirnya beberapa kali, sampai akhirnya aku melumat bibir Rani.

Rani membalas ciuman lembutku dengan ciuman lembut pula. Bibir kami saling berpagutan dengan perlahan-lahan, mencoba menikmati setiap detik ciuman yang diberikan satu sama lain. Tangan kananku mulai mengelus-elus lembut punggung Rani, sementara tangan kiriku berada di pinggang Rani untuk mendekap erat tubuhnya.

Perlahan tapi pasti, tempo kami berciuman semakin lama semakin bertambah cepat. Nafas kami berdua sedikit demi sedikit mulai tidak beraturan, disertai dengan degub jantung kami bertua semakin kencang. Ciuman kami yang semula hanya untuk ungkapan rasa sayang, saat ini sudah bercampur dengan hawa nafsu seksual yang membara. Tangan kananku tidak lagi hanya mengusap lembut punggung Rani, tetapi juga sudah mulai menjelajah ke area bokong Rani.

Begitu pula Rani, kedua tangannya yang semula disandarkan di atas sandaran kursi makan yang aku duduki, sekarang sudah dalam posisi memegang kepalaku bagian belakang, seolah-olah tidak mau melepaskan kepalaku agar Rani bisa terus menciumku. Bahkan aku juga merasakan pinggul Rani sudah bergerak maju mundur dengan ritme yang teratur walaupun cuma sedikit, seolah-olah menginginkan area selangkangannya terus bergesekan dengan batang penisku walaupun keduanya masih tertutup celana dalam masing- masing. Area selangkangan Rani semakin menekan batang kemaluanku yang sejak tadi sudah mengeras, membuat hasrat seksualku semakin tinggi.

Tangan kananku melakukan aksi gerilya terhadap tubuh Rani, menjelajah area-area tubuh Rani untuk mencari titik rangsang di tubuhnya. Paha kiri Rani yang sudah tersingkap dasternya karena posisi duduknya, menjadi sasaran gerilya tangan kananku. Mulusnya kulit paha kiri Rani bisa kurasakan dengan telapak tangan kananku. Aku usap-usap paha kiri Rani beberapa kali. Selanjutnya tangan kananku bergerak ke atas tubuh Rani dengan menyelusup ke dalam daster yang dipakai Rani, sehingga tangan kananku saat ini bisa dengan bebas mengeksplorasi punggung Rani tanpa terhalang oleh daster yang dipakainya.

Nafsu seksual kami berdua semakin membara. Ciuman kami semakin panas. Tidak hanya bibir kami berdua saja yang beraksi, tetapi juga lidah kami berdua sudah saling eksploarsi dan menari di dalam mulut satu sama lain. Kedua lidah kami saling beradu satu sama lain, berebut memasuki rongga mulut lawannya. Tidak jarang kedua gigi kami beradu juga karena kami saling bernafsu. Air liur kami berdua saling bercampur membasahi bibir kami, menandakan ciuman kami memasuki tahap nafsu birahi.

Tangan kananku tidak berhenti hanya menjelajahi punggung Rani, tetapi juga mulai merambah ke arah tubuh Rani yang lebih sensitif akan rangsangan. Sedikit demi sedikit aku mengarahkan tangan kananku turun ke arah bagian bawah tubuh Rani. Aku mersakan celana dalam yang masih dipakainya saat tanganku sudah mencapai pinggul bawahnya. Aku lanjutkan gerakan tangan kananku ke arah kedua bongkahan pantatnya. Aku remas-remas kedua bongkahan pantatnya yang masih kencang itu secara bergantian.

Setelah puas meremas kedua pantat Rani, tangan kananku kembali bergerak semakin turun menjelajahi tubuh Rani melalui celah yang tercipta di antara kedua pahaku. Tangan kananku sudah berada di selangkangan Rani. Aku percayakan jari telunjuk dan jari tengah tangan kananku untuk lebih fokus mengekplorasi area vagina Rani yang masih terbungkus celana dalamnya.

Aku merasakan dengan kedua jari tangan kananku adanya kelembaban saat aku sentuh celana dalam Rani tepat di area vaginanya. Aku tekan lebih dalam lagi sentuhan jariku di area vagina Rani dari luar celana dalamnya. Celana dalam Rani sudah cukup basah akibat rembesan dari cairan vagina Rani. Kemudian aku usap-usap area vagina Rani dengan kedua jari tangan kananku. Aku masih belum bisa merasakan tonjolan klitoris Rani dari luar celana dalamnya. Bulu kemaluan Rani yang cukup lebat, ditambah vagina Rani masih terbungkus celana dalam, membuatku menekan lebih dalam lagi agar sentuhanku ini bisa dirasakan oleh vagina Rani.

Benar saja, dengan menambah tekanan kedua jariku di area vagina Rani, kedua jariku ini bisa merasakan bentuk vagina Rani, bahkan bisa kurakan juga tonjolan klitoris Rani. Hal ini juga ditandai dengan gerakan Rani yang mengikuti irama usapan kedua jariku di area vaginanya. Usapan kedua jari tanganku di area vaginanya membuat ritme nafas Rani semakin tidak teratur. Suara desahan Rani mulai terdengar dari mulutnya. Permainan lidahnya di mulutku pun mulai melemah seiring serangan jari tanganku pada mulut vagina Rani.

Aksi gerilya kedua jari tanganku tidak berhenti sampai di situ. Dengan menggunakan ujung jari telunjuk tangan kananku, aku singkap celana dalam Rani di sisi pangkal paha Rani sebelah kiri. Kemudian aku selusupkan jari telunjuk kananku ke balik celana dalam Rani di area vaginanya. Jari telunjukku bisa merasakan rambut halus vagina Rani yang memang ternyata lebat itu. Lalu aku arahkan jari telunjukku ke mulut vagina Rani. Begitu aku temukan lubang vagina Rani, aku masukan ujung jari telunjukku ke dalam lubang kenikmatan Rani.

Aksi jari telunjuk kananku di lubang vagina Rani ini sontak membuat Rani sedikit terlonjak. Kedua tangan Rani yang masih memegang kepala belakangku, langsung menarik kepalaku ke belakang hingga ciuman kami terhenti dan kedua bibir kami pun terbebas.

“Tangan Mas Rio nakal”, ucap Rani sambil tersenyum manja. Aku bisa melihat wajah Rani yang sudah terangsang. Aku tanggapi dengan senyuman.

“Boleh?”, tanyaku. Rani menjawab dengan anggukan pelan.

Tanpa memberi kesempatan Rani untuk berfikir lagi, langsung aku lanjutkan kembali ciuman ganas ke bibir Rani, kali ini diiringi dengan aku mainkan jari telunjuk kananku di mulut vagina Rani. Telunjuk kananku beraksi dengan menusuk-nusuk lubang kemaluan Rani. Tidak hanya itu, aku kombinasikan dengan menggesek-gesek jari telunjukku di mulut vagina Rani. Tubuh Rani merespon apa yang dilakukan oleh jari telunjukku terhadap vaginanya dengan meggerakan pinggulnya menyesuaikan gerakan jari telunjukku.

Jari telunjukku merasakan mulut vagina Rani semakin becek. Suara desahan Rani kian terdengar. Mulutnya lebih banyak menganga terbuka dan hanya sesekali merespon ciumanku. Matanya setengah terpejam merasakan kenikmatan yang ditimbulkan oleh jari telunukku. Aku percepat gerakan jari telunjukku di vagina Rani. Goyangan Rani pun semakin cepat, bahkan semakin membuat selangkangannya ditekan ke batang penisku.

Aku hentikan ciumanku. “Gue masukin punya gue ya Ran?”, tanyaku tanpa menghentikan pernainan jari telunjukku di mulut vagina Rani.

Rani menjawab dengan anggukan kecil. “Tapi pelan-pelan Mas”, ucap Rani. “Takut sakit kaya sebelumnya. Punya Mas besar”, lanjut Rani kembali.

“Iya sayang”, jawabku lembut sambil mengecup mesra bibir Rani.

“Dibuka ya celana elonya”, lanjutku lagi seraya menghentikan permainan jari telunjuk kananku di vaginanya.

Tanpa diminta kedua kalinya, Rani langsung turun dari pangkuanku ke arah kanan tubuhku. Kemudian Rani menurunkan celana dalamnya dan melepasnya dari tubuhnya. Aku pun segera melakukan hal serupa, melepas celana boxer yang aku pakai tanpa harus bangkit dari tempat dudukku.

Selesai melepas celana dalamnya, Rani langsung kembali ke pangkuanku. Rani tidak langsung duduk. Posisi Rani masih berdiri mengangkangi kedua pahaku. Badannya sedikit dicondongkan ke depan. Kedua tangannya berada di sisi kanan dan kiri kepalaku, pegangan pada bagian atas sandaran kursi yang aku duduki. Sedangkan aku sudah siap menyambutnya.

Aku pegang batang penisku yang sudah berdiri tegak dengan menggunakan tangan kiriku. Aku posisikan kepala penisku ke arah lubang vagina Rani. Sementara itu tangan kananku sudah berada di vagina Rani. Dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengah tangan kananku, aku mencoba membuat lubang vagina Rani lebih membuka agar memudahkan batang penisku masuk ke dalam liang kenikmatan Rani.

Sedikit demi sedikit Rani menurunkan tubuhnya. Kepalanya tertunduk melihat ke arah selangkangannya, untuk melihat posisi batang penisku untuk disesuaikan dengan posisi lubang vaginanya. Kepala penisku sudah menyentuh bibir vagina Rani. Dengan bantuan tangan kiriku, aku usap bibir vagina Rani menggunakan kepala penisku agar mulut vagina Rani lebih terbuka. Rani mendesah saat aku lakukan hal itu.

Setelah mulut vagina Rani mulai terbuka, aku masukan sedikit kepala penisku, mengkin sekitar setengah centimeter. Sesuai permintaan Rani, aku akan memasukan batang penisku secara perlahan-lahan.

“Cium”, ucapku meminta Rani menciumku, karena dia masih menunduk melihat ke arah selangkangannya. Rani pun mengangkat wajahnya kembali menatapku. Tanpa basa-basi aku langsung menyambar bibir Rani dan menciumnya dengan penuh nafsu. Diiringi gerakan tangan kananku yang mencari titik sensitif di tubuh Rani untuk mebuat Rani semakin terangsang sehingga vaginanya mengeluarkan cairan yang dapat memudahkan batang penisku menmbus liang ssnggama Rani.

Tangan kananku pun aku arahkan ke arah dadanya. Berawal aku usap-usap punggungnya, kemudian turun ke arah pantatnya, aku selusupkan jari telunjuk kananku ke celah antara kedua pantatnya, aku jelajahi sampai jari telunjuk kananku menyentuh mulut anusnya yang membuat tubuhnya tesentak karena geli tetapi semakin membuat Rani bernafsu.

Setelah beberapa saat telunjukku kananku bermain di mulut anus Rani, kembali tanganku menngusap pantatnya sebelah kiri. Aku lanjutkan ke atas dengan mengelus area pinggang kiri Rani. Terus ke atas sampai tangan kananku menemukan gundukan daging lebih di area dana Rani. Langsung aku jamah seluruh payudara Rani sebelah kiri dan aku remas dengan lembut yang membuat ciuman Rani semakin mengganas. Saat itu ukuran payudara Rani tidak besar, hanya sebesar nasi KFC. Tetapi kepadatannya masih sangat kencang. Ini kali pertama aku menyentuh payudara Rani, yang selama ini aku hanya bisa melihatnya sekilas-sekilas saja.

Tangan kananku terus meremas-remas lembut payudara Rani sebelah kiri, sementara tangan kiriku masih memegang batang penisku untuk menjaga posisi kepala penisku tetap berada di mulut vagina Rani. Perlahan-lahan aku menngerakkan tulang pinggulku untuk membantu kepala penisku menerobos masuk ke dalam liang kenikmatan milik Rani. Aku ulangi gerakan tulang pinggulku beberapa kali. Aku tidak mau terburu-buru, karena khawtir akan membuat vagina sakit. Rani pun secara naluriah juga berusaha agar kepala penisku masuk ke dalam liang vaginanya dengan membuat gerakan ikut menekan ke bawah tubuhnya.

Sementara itu, tangan kananku masih meremas-remas payudara kiri Rani. Dalam gerakan meremas itu, jempol kananku ikut aktif berusaha mencari puting Rani. Jujur saja, saat itu aku sempat kesulitan mencari puting payudara Rani sebelah kiri. Aku sampai harus mencarinya dengan sedikit menekan payudara kirinya menggunakan untuk merasakan letak puting kiri Rani, karena posisiku saat itu tidak bisa melihat payudara Rani, selain aku masih dalam posisi berciuman, tetapi juga tubuh atas Rani masih tertutup daster yang dipakainya.

Setelah ibu jari kananku menemukan puting Rani sebelah kiri, aku lanjutkan meremas-remas lembut payudara kirinya. Akan tetapi kali ini disertai gerakan mengusap-usap lembut puting Rani dengan menggunakan ibu jari kananku.

Mendapat 3 serangan sekaligus dariku, nafsu birahi Rani semakin tidak terbendung. Nafasnya semakin tidak beraturan. Bibirnya sudah tidak kuasa lagi menerima serangan ciumanku, mulutnya hanya bisa menganga menerima bertubi-tubi ciuman dariku. Aku bisa merasakan cairan vagina Rani sudah mulai banyak keluar, karena perlahan tapi pasti seluruh kepala penisku sudah berada di dalam liang vagina Rani.

Rani terbuai dalam balutan nafsu birahinya. Pinggulnya semakin aktif bergerak naik turun. Sepertinya kehadiran batang penisku di dalam liang vaginanya membuat nafsu birahinya semakin tinggi. Lambat laun batang penisku sudah setengah berada dalam balutan dinding vagina Rani. Aku pun melepaskan tangan kiriku dari memegang batang penisku. Aku arahkan tangan kiriku ke paha kanan Rani bagian dalam, membantu Rani agar tidak secara tiba-tiba menurunkan tubuhnya yang membuat mulut vaginanya menelan seluruh batang penisku, kalau seperti aku khawatir akan membuat sakit vaginanya.

Perlahan-lahan aku merasakan sentuhan kulit kedua pahaku dengan kulit kedua pantat Rani. Sedikit demi sedikit pantat Rani mulai menekan kedua pahaku, ini menandakan sedikit lagi seluruh batang penisku ditelan vaginanya. Sampai akhirnya tulang pahaku bisa merasakan tekanan dari kedua pantat Rani, yang artinya sudah batas maksimal batang penisku masuk ke dalam vagina Rani dalam posisi kami seperti ini. Tapi aku belum merasakan seluruh batang penisku masuk ke dalam vagina Rani, karena pangkal penisku belum bersentuhan dengan bibir vagina Rani.

Tanpa aku minta, secara naluriah Rani menggerakan pinggulnya maju mundur, tetapi masih secara perlahan, vaginanya perlu waktu untuk menyesuaikan kehadiran batang penisku di dalamnya. Aku merasakan kehangatan dari dinding vagina Rani yang menyelimuti batang penisku,l. Terasa erat cengkraman dinding vagina Rani terhadap batang penisku. Aku juga bisa merasakan tekstur dinding vagina Rani yang bergerenjal akibat gerakan maju mundur yabg dilakukan Rani.

Bibir kami masih saling berpagutan. Kali ini Rani yang mulai mendominasi. Kedua biibirnya aktif melumat kedua bibirku bergantian, lidahnya menari-nari di dalam rongga mulutku, seiring goyangan pinggul Rani di atas pangkal pahaku. Sementara itu tangan kananku secara bergantian memainkan puting dan meremas-remas kedua payudaranya secara bergantian kiri dan kanan. Tangan kiriku tetap berada di pantat kanannya, ikut membantu gerakan pinggul Rani yang bergoyang maju mundur.

Setelah beberapa saat, aku merasakan dinding vagina Rani semakin licin. Liang vaginanya sudah banyak mengeluarkan cairan. Aku pun memosisikan tangan kananku ke pantat kiri Rani. Dengan menggunakan kedua tanganku yabg berada di kedua pantat Rani, aku tarik pantatnya ke arah tubuhku, sehingga aku bisa merasakan seluruh batang penisku berada di dalam liang vagina Rani. Sontak Rani melenguh keenakan saat kepala penisku menyentuh dasar liang vaginanya, tanpa terasa Rani sedikit menggigit bibir bawahku.

Tangan kanan Rani mencubit manja pinggang kiriku. “Pelan-pelan Mas. Mentok”, ucap Rani lirih tanpa melepaskan sentuhan bibirnya dari bibirku.

“Buka dasternya ya”, pintaku. Tanpa menunggu persetujuan dari Rani, kedua tanganku menarik ujung bawah dasternya ke atas, dan tanpa diminta Rani pun mengangkat kedua tanggannya ke atas untuk memudahkanku melepas daster yang dipakainya, lalu aku jatuhkan ke lantai di sisi kananku. Kemudian aku melepas juga kaos yang aku pakai, juga aku jatuhkan di lantai sisi kananku.

Aku terkesima melihat keindahan payudara Rani. Kedua payudara Rani menggantung indah di hadapanku. Payudara Rani mungil tapi ranum dan indah dilihat, seperti buah mangga yang baru tumbuh. Kedua payudara Rani lebih kecil dari payudara milik Risa istriku. Putingnya yang mungil dan berwarna merah muda kecoklatan dengan dikelilingi areola yang berwarna sedikit lebih gelap, tidak membuat tonjolan di payudaranya, seperti halnya ujung buah mangga yang tanpa sudut. Pantas saja aku kesulitan mencarinya bila tidak melihat putingnya secara langsung. Nafsu birahiku kembali menggelegak.

Rani tersenyum melihat aku yang terpana memandang kedua payudaranya. Selanjutnya aku remas-remas lembut payudara kirinya. Kemudian aku dekatkan wajahku ke arah payudara kiri Rani. Aku cium lembut puting kiri Rani, sementara tangan kananku menahan payudara kiri Rani agar putingnya tetao berada di mukutku. Aku jilat perlahan-lahan puting kirinya dengan lembut, kemudian aku kulum puting kirinya dengan mulutku diselingi dengan jilatan kembali lidahku di puting kirinya.

Nafas Rani kembali tidak beraturan. Tangan kiriku kembali menarik dan mendorong pantat kanan Rani agar Rani kembali menggoyangkan pinggulnya maju mundur, dan Rani pun melakukannya. Goyangan pinggul Rani terlihat semakin tegas. Gesekan batang penisku dengan dinding vaginanya semakin jelas aku rasakan. Kocokan vagina Rani atas batang penisku membuat kenikmatan sampai ke ubun-ubunku. Bahkan beberapa kali kepala penisku bersentuhan dengan mulut rahimnya, sontak membuat Rani melenguh keenakan.

Selanjutnya aku ubah posisi kedua tanganku. Kali ini tangan kananku berada di pantat kiri Rani untuk membantu gerakan pinggul Rani yang bergoyang maju mundur. Sedangkan tangan kiriku meremas-remas lembut payudara kanan Rani disertai dengan usapan ibu jariku terhadap puting kanannya. Bibir dan lidahku menjiat-jilat diselingi mengulum puting kiri Rani dengan penuh nafsu. Tanpa kami sadari, cairan vagina Rani sudah merembes keluar dari vaginanya dan membasahi area pangkal pahaku.

“Sshhh haaahh”, desahan Rani jelas terdengar. Mulutnya berkali-kali mengeluarkan desahan tanpa kata.

Sedikit demi sedikit goyangan Rani semakin cepat, diiringi desahannya yang semakin cepat pula. Sepertinya Rani hampir mencapai orgasmenya. Aku memusatkan aktivitasku untuk membuat Rani orgasme. Aku posisikan kedua tanganku di kedua bongkahan pantat Rani. Aku bantu goyangan pinggul Rani dengan menarik dan mendorong kedua pantatnya maju mundur. Aku remas kedua pantat Rani yang masih kencang.

Goyangan Rani semakin tidak menentu, karena kendali sekarang ada padaku. Kedua tanganku terus menggerakan kedua pantatnya maju mundur, bahkan sesekali aku selingi dengan gerakan sedikit berputar. Alhasil membuat Rani semakin meracau tidak jelas apa yang diucapkan, karena keenakan akibat batang penisku yang terus mengaduk-ngaduk liang vaginanya. Bahkan Rani berkali-kali tersentak saat kepala penisku menampar mulut rahimnya.

Aku percepat gerakan kedua tanganku di pantat Rani. Terus maju mundur semakin cepat, ayunannya pun semakin pendek. Kedua pantatnya pun aku tekan ke pangkal pahaku, agar kepala penisku semakin menggaruk-garuk bagian terdalam dinding vaginanya. Dinding vagina Rani terasa semakin sempit. Jilatan maupun kuluman lidahku di puting kiri Rani pun aku percepat. Tangan kanan Rani menjambak rambutku dan semakin membenamkan kepalaku di dadanya.

“Aaakkhhh…”, satu erangan panjang keluar dari muluf Rani. Badannya kaku dan melenting ke belatang, tangan kanannya semakin kencang menjambak rambutku dan menarik kepalaku menjauhi payudaranya. Dinding vaginanya erat mencengkeram batang penisku. Area selangkangan Rani juga semakin ditekan ke bawah ke pangkal pahaku, seolah-olah ingin menelan batang penisku lebih dalam lagi.

Tubuh Rani mengejang beberapa kali. Dinding vaginanya pun ikut berkedut-kedut beberapa kali. Aku hentikan gerakanku dan mengendurkan cengkaraman kedua tanganku di pantat Rani. Aku biarkan secara naluriah pinggul Rani bergerak sesekali mengicok batang penisku untuk menuntaskan orgasmenya.

Sampai akhirnya sekitar 20 detik kemudian tubuh Rani melemas lunglai dan kembali jatuh ke pelukanku. Kepalanya bersandar di atas bahu kiriku. Kedua tangannya memeluk erat tubuhku. Nafasnya masih tersenggal-senggal.

“Pegangin aku Mas, aku melayang”, ucapnya lemas. Aku pun membalas dengan memeluk tubuhnya dengan kedua tanganku.

“Ini apa Mas? Aku belum pernah begini”, ucapnya lirih. Aku menjawabnya dengan mencium lembut leher kirinya berkali-kali. Tangan kananku membelai-belai lembut kepalanya penuh dengan rasa sayang. Sementara batang penisku yang masih tegang menancap pasti di dalam liang vaginanya.

Setelah beberapa saat, nafas Rani berangsur-angsur kembali normal. “Enak?”, tanyaku.

“Banget Mas. Aku ngga pernah begini”, jawab Rani masih dengan nada lemas. Aku tersenyum mendengar jawaban Rani. Aku merasa sangat senang melihat Rani yang lemas lungkai di pelukanku. Ego laki-lakiku muncul, karena bisa menaklukan jiwa dan raga Rani.

“Mas masih belum keluar?”, tanya Rani. Aku menjawab dengan menggelengkan kepalaku pelan.

“Mas mau ngeluarinnya di mana?”, tanya Rani lagi.

“Emang biasanya gimana?”, aku balik bertanya sedikit menggodanya.

“Iiihh ngga tau”, jawabnya sambil tangan kanannya mencubit mesra pinggang kiriku.

“Di dalem boleh?”, tanyaku menggodanya kembali.

“Gak”, jawab Rani disertai cubitan lebih keras di pinggang kananku. Aku pun terkekeh melihat respon Rani.

“Tapi aku udah ngga kuat goyang lagi. Lemes”, ucap Rani memelas. Aku tersenyum.

“Kalo kocokin mau?”, tanyaku. Rani menjawab dengan mengangguk lemah.

449942929_122170836758040445_8971471097043974814_n-605x1024 Rani, affair dengan iparku

Kemudian Rani sedikit berdiri untuk mengeluarkan batang penisku dari liang senggamanya. Flop. Batang penisku pun keluar dari lubang vagina Rani, menepuk kulit perutku. Rani kembali duduk di atas kedua pahaku, mengambil posisi agak menjauh dari batang penisku yang masih keras berdiri. Lalu diraihnya dengan hati-hati batang penisku menggunakan tangan kanannya.

“Iihh lengket”, sahutnya saat tangan kanannya menggenggam batang penisku, sontak dilepaskannya kembali.

“Ah ih, ah ih”, itu kan bekas elo juga”, sahutku sambil tertawa meledek Rani.

“Tetep aja geli”, balasnya. Kemudian Rani menundukkan badannya ke sebelah kananku, mengambil daster yang tadi dipakainya. Lalu dasternya itu digunakan untuk membersihkan batang penisku dari cairan vaginanya yang masih menempel pada batang penisku. Rani mengelap batang penisku dengan lembut dan sangat hati-hati. Tidak hanya itu, Rani juga membersihkan cairan vaginanya yang membasahi sekitar pangkal pahaku, bahkan buah zakarku pun ikut diberilsihkannya dengan lembut. Lalu Rani juga membersihkan area selangkangannya. Setelah itu dijatuhkannya kembali dasternya ke lantai sebelah kirinya.

Selanjutnya Rani kembali meraih batang penisku secara lembut dan hati-hati. Diperhatikannya sejenak batang penisku, seperti sedang mengukur batang penisku menggunakan tangan kanannya. Genggaman tangan kanannya di batang penisku tidak seutuhnya melingkari batang penisku, hanya tiga per empat batang penisku saja yang bisa dilingkari oleh tangan kanan Rani. Perlahan-lahan tangan kanan Rani mukai mengocok batang penisku dengan lembut.

“Gini Mas?”, tanya Rani sambil menatap wajahku, memastikan yang dilakukannya sesuai keinginanku.

“He-eh”, jawabku sambil mengangguk pelan. “Ciuum”, ucapku lagi dengan nada manja sambil memanyunkan bibirku menggodanya agar segera mencium bibirku.

Rani menanggapi dengan senyuman. Lalu didekati wajahnya ke wajahku dan dicium lah bibirku dengan lembut. Bibir kami saling berpagutan satu sama lain. Ciuman yang lembut berubah menjadi ciuman penuh nafsu.

Tidak ada yang spesial dari kocokan tangan kanan Rani di batang penisku, biasa aja, malah cenderung kaku dan tidak luwes, terlihat Rani tidak berpengalaman dalam hal ini. Untuk memancing nafsuku kembali agar cepat orgasme, kedua tanganku pun tidak tinggal diam. Tangan kananku mulai menjalar dari punggung Rani menuju ke bawah ke arah celah di antara bongkahan kedua pantatnya. Sementara tangan kiriku memegang bagian atas pantat kanan Rani untuk menjaga tubuh Rani agar tidak melorot ke belakang.

Jari tengah tangan kananku menyelusup di celah antara kedua bongkahan bokong Rani. Aku usap-usap lembut celah di antara bagian atas pantat Rani. Setelah puas, jari tengah tangan kananku kembali menyelusup lebih bawah lagi. Ujung jari tengah tangan kananku merasakan mulut anus Rani. Aku mainkan jari tengahku di mulut anus Rani dan area perineum Rani. Tubuh Rani menggeliat berkali-kali saat jari tengah tangan kananku bermain di area perineumnya.

Puas memainkan area perineum Rani, aku geser sedikit jari tengah tangan kananku lebih ke bawah sekitar 1 centimeter ke mulut liang vaginanya. Tanpa basa-basi, langsung aku masukan ujung jari tengah tangan kananku sekitar setengah centimeter ke dalam liang vagina Rani yang sudah terbuka akibat penetrasi batang penisku sebelumnya. Ujung jariku bisa merasakan cairan vagina Rani. Sepertinya Rani sudah kembali terangsang, kelenjar bartholin di vaginanya sudah memproduksi cairan pelumas kembali, karena sebelumnya Rani sudah menyeka area selangkangannya dengan dasternya.

Nafas Rani kembali menjadi berat dan tidak teratur, kocokan tangan kanan Rani pada batang penisku pun ritmenya menjadi tidak beraturan, saat aku memasukkan 2 ruas jari tengah tangan kananku di liang vaginanya. Aku mainkan jari tengahku di liang vagina Rani. Aku aduk-aduk liang vagina Rani dengan ujung jari tengahku, cairan vaginanya semakin membasahi ujung jari tengah tangan kananku. Pinggul Rani ikut bergoyang menyesuaikan adukan jari tengah tangan kananku di liang vaginanya.

“Cepetin dikit sayang. Gue mau keluar”, ucapku sambil tidak melepaskan bibirku dari mencium bibir Rani. Orgasmeku akan segera datang. Batang penisku mengembang sudah dalam batas maksimalnya. Rani pun mempercepat kocokan tangan kanannya pada batang penisku. Batang penisku berkedut-kedut, sebentar lagi batang penisku akan menyemprotkan cairan spermaku. Tangan kananku yang semenjak tadi memainkan liang vagina Rani, aku alihkan membantu tangan kanan Rani mengocok batang penisku agar kenikmatan orgasmeku menjadi maksimal.

Tangan kananku dan tangan kanan Rani berkolaborasi mengocok batang penisku. Tangan kananku fokus menyentuh area sensitif di batang penisku yang tidak terjamah oleh tangan kanan Rani. Ritme kocokan pada batang penisku pun aku yang kendalikan.

“Gue keluar sayang… akh”, ucapku pelan disertai dengan erangan yang tertahan saat batang penisku menyemprotkan cairan spermaku pertama kali.

Tubuhku terasa melayang untuk beberapa saat. Cairan spermaku menyembur beberapa kali sampai ke bagian bawah payudara kiri Rani dan juga membasahi perut Rani. Aku memperlambat kocokan tangan kami berdua pads batang penisku, menyesuaikan dengan ritme orgasme yang aku alami. Pelan-pelan tangan kami berdua mengocok batang penisku, memastikan tidak ada lagi cairan sperma yang keluar dari batang penisku.

Tangan kanan kami berdua melepas genggaman pada batang penisku. Kedua tangan kami pun tidak luput terkena cairan sperma yang aku keluarkan. Lalu kembali aku lumat bibir Rani dengan lembut dan perasaan sayang. Rani pun membalas ciumanku, aku juga merasakan ungkapan sayang Rani dari ciuman bibirnya. Ciuman kami diakhiri dengan kecupan lembut bibir kami berdua beberapa kali.

“Ambil tisu Ran, itu mulai netes ke meki elo”, ucapku meminta Rani mengambil tisu yang berada di meja makan samping kananku.

Rani memiringkan tubuhnya ke arah kiri tanpa beranjak dari duduknya pada kedua pahaku, dan menjukurkan tangan kirinya ke meja makan untuk meraih tempat tisu yang ada di atasnya. Ditariknya tempat tisu agar lebih dekat ke kami berdua. Lalu diambilnya beberapa helai tisu dan disekanya air maniku berada di perutnya dan menyekanya ke atas ke payudara krinya. Cairan spermaku yang keluar cukup banyak, Rani sampai harus mengambil beberapa helai tisu lagi agar cairan spermaku yang menempel pada tubuhnya benar-benar hilang. Aku mengingat-ingat kapan terakhir kali penisku ini menyemburkan spermaku. Aku ingat ternyata 4 hari yang lalu penisku menyemburkan cairan spermaku membasahi liang senggama Adel, pemandu lagu langgananku di tempat aku biasa berkaraoke.

Tangan kiri Rani meraih pergelangan tangan kananku, kemudian membersihkan tangan kananku yang terkena cairan spermaku menggunakan tangan kanannya, setelah terlebih dahulu membersihkan tangan kanannya. Selanjutnya tanpa aku minta, Rani kembali mengambil beberapa helai tisu yang kemudian digunakannya untuk membersihkan batang penisku. Dengan lembut dan hati-hati, Rani menyeka batang penisku, begitu telaten Rani melakukannya, Rani menyeka kembali apabila ada sobekan tisu yang menempel pada batang penisku dengan hati-hati. Sungguh aku sempat terpana sesaat dan merasa sangat tersanjung dilayani Rani seperti itu, hal yang tidak pernah aku dapatkan dari Risa, istriku. Risa tipikal yang selalu ingin dilayani, bukan melayani seperti Rani.

Setelah selesai membersihkan cairan spermaku, Rani kembali memeluk erat tubuhku, kedua tangannya melingkari bahuku, dagunya disandarkan pada atas bahu kiriku. Aku pun membalas dengan memeluknya erat dengan melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya.

“Aku seneng banget Mas”, ucap Rani sambil mencium lembut leherku sebelah kiri. “Sampai kapan kita bisa begini ya Mas?, ucap Rani lagi.

“Selamanya”, jawabku konsisten. Rani pun semakin mengeratkan pelukannya padaku. Kami pun saling terdiam, menikmati momen kebahagiaan kami berdua di malam ini. Kami hanyut dalam pikiran masing-masing.

Kami saling terdiam selama beberapa saat, hanya suara dari televisi di ruang tamu yang menemani keheningan kami. Dadaku bisa merasakan detak jantung Ranj yang berdegup kencang. Semantara kedua payudaranya menempel lembut di dadaku.

“Elo tidur Ran?”, tanyaku. Rani menjawab dengan menggelengkan kepalanya pelan.

“Pindah yuk. Banyak nyamuk, dari tadi kaki gue digigitin nyamuk”, ucapku sambil menggaruk kaki kananku.

“Mau pindah ke mana Mas?”, tanya Rani pelan.

“Pindah ke kamar aja. Mau gue temenin tidur?”, tanyaku.

“Beneran?”, Rani balik bertanya sambil menegakan kepala dan tubuhnya, sehingga wajah kami saling berhadapan dan mata kami saling bertatapan. Terlihat raut wajah Rani yang senang atas pertanyaan aku sebelumnya. Sementara kedua tangannya melingkar di leherku. Aku mengangguk pelan disertai dengan senyuman.

“Mau di kamar siapa”, tanya Rani.

“Kamar elo aja, biasanya yang dipake jadi kamar pengantin baru itu kamar pengantin perempuan”, jawabku disertai senyuman menggoda Rani.

“Yeee”, sahutnya kesel sambil mencubit mesra pinggang kiriku. Wajahnya tersipu malu. Kami berdua tertawa bahagia bersama. Kami pun kembali saling berpelukan erat sebelum akhirnya melepaskan pelukan satu sama lain.

Rani turun dari pangkuanku. Saat Rani sudah berdiri di hadapanku, aku menyahut, “Sebentar Ran. Diem dulu di situ sebentar”.

“Ada apa Mas?”, tanya Rani. Aku tidak menjawabnya. Yang aku lakukan adalah memandang Rani dari atas kepala sampai dengan ujung kakinya.

“Coba sekarang elo berbalik”, pintaku. Rani masih tidak mengerti apa maksudku, tetapi tetap dilakukannya permintaanku. Aku pun kembali memandangi tubuh belakang Rani dari atas kepala sampai ujung kakinya.

“Ada apaan sih?”, tanya Rani lagi penasaran sambil kepalanya menengok ke arahku.

“Gapapa, gue cuma mau ngerekam ini aja di otak gue. Jaga-jaga kalo gue lagi kangen sama elo”, jawabku.

“Iiihh apan sih, suka ngga jelas deh”, sahut Rani ngambek merasa aku kerjai. Tapi raut wajahnya berkata lain, wajahnya memancarkan kegembiraan dan tersipu malu.

Baru kali ini aku melihat secara keseluruhan tubuh telanjang Rani tanpa sehelai benangpun di tubuhnya. Tapi memang tubuh Rani sangat indah. Kulitnya putihnya mulus sekali, walaupun masih lebih putih Risa, kakaknya. Tidak ada kerutan-kerutan di bagian-bagian tubuh yang biasanya terdapat kerutan. Kulit kedua pahanya tanpa kerutan, bahkan di pantatnya juga demikian. Aku juga tidak melihat perbedaan warna kulit di area selangkangannya. Mayoritas perempuan memiliki waran kulit yang lebih gelap di bagian selangkangannya dibandingkan warna kulit di bagian tubuh yang lain.

Rani berjalan ke samping kananku. Dia mengambil tisu bekas membersihkan spermaku. Kemudian mengambil pakaianku dan daster serta celana dalam yang tadi di pakainya. Rani menyodorkan pakaian yang tadi aku pakai kepadaku, aku pun menerimanya. Kemudian Rani berjalan ke arah tangga, tangan kanannya membawa pakaiannya, sedangkan tangan kirinya membawa tisu bekas membersihkan spermaku.

“Ayuk Mas”, ajak Rani saat dia berada di anak tangga terbawah.

“Sebentar gue matiin tivi sama lampu dulu”, jawabku sambil bangkit berdiri dan mematikan lampu televisi dan lampu-lampu tertentu di ruang makan dan di ruang tamu, sementara menyisakan lampu di ruang keluarga supaya lantai bawah tidak terlalu gelap.

Kemudian aku menghampiri Rani yang masih menungguku di tangga. Kami pun berdua menaiki tangga ke lantai atas. Rani berada di depanku kira-kira berbeda 4 anak tangga. Dengan posisi ini, terlihat jelas belahan vagina Rani dengan rambut-rambut halus menyembul keluar dari selangkangannya. Pemandangan yang sangat indah.

“Ke kamar mandi dulu ya Mas. Bersih-bersih”, sahut Rani sambil menuju ke arah kamar mandi lantai atas.

“Ikuuutt”, sahutku manja sambil setengah berlari seolah-olah takut pintu kamar mandi ditutup Rani.

“Iih ngapain ngikut-ngikut sih”, sahutnya tapi tidak ada upaya untuk mencoba melarangku. Di dalam kamar mandi, Rani membuang tisu bekas membersihkan spermaku ke dalam kloset. Lalu disiramnya agar tisu tersebut hanyut ditelan kloset.

Kami pun membersihkan memakai air hangat yang keluar dari shower. Aku biarkan Rani lebih dulu membasahi tubuhnya, tetapi tidak kepalanya. Aku berinisiatif mengambil sabun cair yang digunakan bersama. Kemudian aku manyabuni tubuh Rani dari mulai pungungnya, kemudian beralih ke bagian depan tubuhnya. Aku sedikit bermain dengan payudaranya sambil menyabuninya. Kuremas-remas lembut beberapa kali kemudian lanjut menyabuni perutnya. Rani sedikit merengut malu saat aku menyabuni sambil meremas-remas payudaranya yang mungil.

Lalu aku tuang kembali sabun ke telapak tangan kananku. Selanjutnya aku berjongkok di belakang tubuh Rani. Aku sabuni kedua bongkahan pantatnya yang sangat proporsional dengan bentuk badannya. Walaupun kurus, pantat Rani sangat seksi menggiurkan dan tidak tepos sama sekali. Sesekali aku remas pantatnya yang masih kencang sambil menyabuninya. Kemudian aku sabuni area pangkal paha Rani dari arah belakang tubuhnya. Aku tidak berani menyabuni vaginanya, karena sepengetahuanku ada sabun khusus untuk vagina guna menjaga kesehatan vagina. Sengaja aku senggol-senggol sedikit ke arah vaginanya. Rani kembali merengut sambil menepak mesra tangan kananku. Selanjutnya aku menyabuni seluruh bagian kakinya mulai dari kedua paha kanannya turun ke kedua telapak kaki Rani.

Aku sangat menikmati kegiatan menyabuni tubuh Rani. Ini berarti aku bisa mengeksplor seluruh area tubuh Rani, hingga tidak ada area tubuh Rani yang belum pernah aku sentuh. Sedangkan dari sisi Rani pasti dia sangat senang atas apa yang aku lakukan. Karena aku yakin belum pernah seorang pun yang pernah memperlakukannya seperti ini, kecuali orang tuanya saat Rani masih anak-anak.

Setelah selesai menyabuni tubuh Rani, tanpa aku minta gantian Rani yang melayaniku. Diawali dengan membasahi seluruh tubuhku, kemudian Rani menyabuni seluruh tubuhku. Rani juga berjingkok saat menyabuni bagian bawah tubuhku. Bahkan dia juga memperlakukan penisku dengan lembut dan penuh hati-hati. Rani sedikit berlama-lama menyabuni penisku, aku rasa ini juga hal yang baru dilakukan oleh Rani, karena saat menyabuni penisku, Rani memperhatikan batang penisku dengan seksama. Setelah selesai menyabuniku, kami bergantian menggunakan shower untuk membilas diri. Kami saling membantu satu sama lain. Bahkan sesekali kami selipkan dengan saling berpelukan dan berciuman. Benar-benar pasangan baru, kami berdua dilanda kasmaran.

Setelah mengeringkan tubuh kami berdua dengan menggunakan handuk, kami berdua beranjak ke kamar Rani dengan kondisi masih dalam keadaan telanjang bulat. Rani mencoba mengambil pakaiannya yang ada di dalam lemari pakaiannya, tapi aku cegah. Aku mengusulkan agar malam ini kami tidur tanpa menggunakan sehelai busana sama sekali. Rani sempat tertegun sejenak mendengar usulanku, tapi akhirnya Rani mengiyakan ideku ini.

Tanpa terasa, waktu sudah hampir jam 1 malam. Kami berdua pun beranjak naik ke tempat tidur. Kami berdua langsung membenamkan diri di balik selimut. Aku memposisikan diri tidur sisi dekat tembok kamar, sedangkan Rani berada di sisi kiriku. Kami berdua salng berpelukan, tangan kiriku memeluk tubuh Rani melingkar melalui bahunya, pangkal lengan kiriku dijadikan sebagai bantal oleh tangan Rani. Tangan kananku dan tangan kiri Rani saling menggenggam erat di atas dadaku.

Aku memberikan ciuman sayang di jidatnya dan Rani pun menanggapinya dengan semakin erat menempelkan tubuhnya ke tubuhku. Sentuhan langsung kulit tubuh kami berdua menambah kehangatan malam ini. Kami berdua memejamkan mata dengan raut wajah yang sama-sama memancarkan kebahagian. Sungguh sangat ingin mengulang kembali momen seperti ini lagi.

Share this content:

Post Comment

You cannot copy content of this page