Bertukar pasangan di puncak
Udara pagi tanggal 7 Januari 2011 itu terasa sejuk menusuk kulit, tapi tidak mampu mendinginkan gejolak panas di dalam diriku. Di sampingku, istriku, Shinta, tersenyum nakal, matanya menyiratkan antisipasi yang sama gila denganku. Kami sedang dalam perjalanan menuju Puncak Bogor, konvoi bersama Farhan dan istrinya, Revelia, yang membuntuti di belakang dengan mobil mereka. Sejak tiga bulan lalu, rencana gila ini sudah kami ramu, setiap detailnya kami bicarakan sampai ke titik paling vulgar. Hari ini, adalah hari pembalasan hasrat.
“Gimana, Yang? Udah siap melayani kontol Farhan?” godaku, tanganku bergerak usil meremas pahanya yang tertutup jeans ketat.
Shinta mendesis geli, menepis tanganku manja. “Diam, brengsek. Kamu sendiri, sanggup nampung punya Revelia? Aku dengar dia jago banget main lidah.”
Tawa kami meledak, memenuhi kabin mobil. HT di dashboard berderik, suara Farhan terdengar antusias. “Gimana, Kawan? Udah panas?”
Aku menyahut, “Panas banget, anjing! Udah nggak sabar pengen ngerasain memek Revelia!”
Dari HT terdengar suara Farhan tergelak diikuti desahan Revelia yang manja. “Dasar mesum! Jangan lupa bagianku nanti ya, Sayang!” seru Revelia.
“Siap, Sayang! Kontolku udah tegang dari tadi pagi mikirin memekmu yang basah!” balasku, semakin memanas.
Kami melaju menyusuri jalan tol, kemudian keluar jalur non-tol yang berkelok-kelok, pemandangan hijau pegunungan mulai menyapa. Otakku sudah jauh melayang membayangkan tubuh Revelia di bawahku, sementara Farhan melahap Shinta. Persetujuan gila ini bukan hanya soal seks, ini soal eksplorasi batasan, tentang kejujuran paling dalam terhadap hasrat hewani kami.
Setelah beberapa jam perjalanan, tiba di area yang cukup sepi dengan pepohonan rindang di pinggir jalan, Farhan tiba-tiba berteriak di HT, “Berhenti di sini! Aku udah nggak tahan!”
Aku menginjak rem, mobil kami berhenti berdampingan. Jantungku berdebar kencang. Shinta menatapku dengan mata berbinar, nafsu dan rasa ingin tahu bercampur aduk. Aku membalas tatapannya, lalu membuka pintu mobil.
Farhan sudah keluar dari mobilnya, menyeringai padaku. Di sampingnya, Revelia berdiri anggun, rambutnya dikuncir kuda, tapi matanya memancarkan keganasan yang tak terbendung. Tubuhnya dibalut kaos tipis dan celana pendek yang memperlihatkan lekuk pahanya.
Tanpa banyak bicara, kami berempat saling mendekat. Pandangan Shinta dan Revelia beradu, ada percikan hasrat dan persetujuan di sana. Farhan menarik Shinta ke pelukannya, bibir mereka langsung menyatu dalam ciuman panas yang brutal. Aku menelan ludah, menyaksikan istriku diciumi sahabatku, tubuh mereka saling bergesekan. Pemandangan itu memicu sesuatu yang liar dalam diriku.
“Ayo, Revelia,” bisikku serak, meraih tangannya. Tangannya dingin tapi gemetar.
Kami berjalan sedikit menjauh, menuju semak-semak yang lebih rimbun, masih dalam pandangan satu sama lain, tapi cukup tersembunyi dari mata umum. Di sana, di balik rerimbunan, kami berhenti.
Revelia menatapku, matanya yang cokelat gelap memancarkan hasrat dan sedikit kegugupan yang justru membuatku semakin bergairah. Bibirnya yang penuh itu terlihat menggoda.
“Kamu… yakin?” tanyanya, suaranya tercekat.
“Sangat yakin,” jawabku, suaraku rendah dan dalam. “Dan aku tahu kamu juga.”
Tanpa menunggu lagi, aku menariknya ke dalam pelukanku. Bibir kami bertemu, ciuman yang tadinya ragu-ragu berubah menjadi liar dan penuh nafsu. Aku merasakan lidahnya bermain-main dengan lidahku, saling membelit, menghisap, seolah ingin melumat seluruh isi mulutku. Tangan kiriku melingkar di pinggangnya, menarik tubuhnya merapat erat, merasakan gundukan dadanya yang kenyal menempel di dadaku. Tangan kananku sudah melayang ke belakang, meraba pantatnya yang padat dan berisi.
“Mmmhh… anjing, kau panas sekali…” desisku di sela ciuman, bibirku turun ke lehernya, menjilat dan menghisap kulitnya yang lembut.
Revelia mendesah keras, kepalanya mendongak, memberikan akses penuh padaku. “Ahhh… pelan-pelan…”
Tapi aku tidak mau pelan. Nafsu sudah membakar habis kewarasanku. Aku meraih ujung kaosnya, menariknya ke atas, memperlihatkan perutnya yang rata dan pusarnya yang kecil. Tanpa basa-basi, kaosnya kulempar ke tanah.
Bra hitam yang dikenakannya mengapit kencang buah dadanya yang besar dan montok. Putingnya sudah menegang, mencetak jelas di balik kain tipis.
“Sialan, kau seksi sekali…” gumamku, mataku terpaku pada gundukan itu.
“Kau suka?” tanyanya manja, napasnya memburu.
“Sangat suka!”
Dengan satu gerakan cepat, aku membuka pengait branya. Branya terlepas, dan sepasang gunung kembar itu langsung melompat bebas, memantul-mantul di depan mataku. Putingnya yang berwarna cokelat tua sudah tegak mencuat, siap untuk dilahap.
Aku menunduk, melahap puting kirinya dengan rakus. Lidahku berputar-putar di sana, menghisapnya kuat-kuat, sesekali menggigit lembut.
“Ahhh… ohhh… yaaa… uhmm…” Revelia mendesah tak karuan, tangannya mencengkeram rambutku, menariknya kuat. “Itu nikmat… hisap lebih keras…!”
Aku menurut, menghisap putingnya bergantian, melahapnya dalam-dalam, merasakan kekenyalan buah dadanya yang besar di pipiku. Air liurku membasahi seluruh payudaranya. Aku mengulum putingnya, menggigit kecil, lalu menjilati areolanya, sebelum berpindah ke puting yang lain.
“Enak, Sayang? Enak?” bisikku di antara isapan.
“Enak sekali, brengsek! Kau gila!”
Tanganku tidak tinggal diam. Perlahan tapi pasti, aku meraba pahanya yang mulus, mengusap ke atas, menelusup ke dalam celana pendeknya. Jari-jariku merasakan kain katun celana dalamnya yang basah kuyup. Memeknya sudah banjir.
“Kau sudah basah, jalang,” gumamku, suaraku serak.
“Aku mau kontolmu… aku mau kontolmu sekarang!” Revelia berteriak, kepalanya mendongak, matanya terpejam.
Aku dengan cepat menurunkan celana pendek dan celana dalamnya sekaligus, memperlihatkan hutan lebat di antara pahanya. Aroma memeknya yang basah langsung menyeruak, memabukkanku. Aku berlutut di depannya, menatap memeknya yang menganga, bibir vaginanya bengkak dan merah, diselimuti lendir bening yang mengkilap. Klitorisnya kecil, mencuat, berdenyut-denyut.
“Sialan, memekmu indah sekali…” bisikku, mataku terpaku.
Aku mendekatkan wajahku, menghirup aroma khasnya. Lalu, tanpa ragu, lidahku menjulur, menjilat bibir memeknya dari atas ke bawah.
“Ahhh! Ohhh! Ya Tuhan!” Revelia menjerit kaget, tubuhnya menegang, tangannya mencengkeram bahuku.
Aku terus menjilat, lidahku bergerak-gerak lincah, menghisap klitorisnya yang mungil, mengulumnya perlahan. Aku merasakan tubuhnya gemetar hebat di atasku.
“Terus… hisap… hisap lebih keras…!” desahnya, kakinya sedikit terbuka.
Aku mengulum klitorisnya lebih dalam, sesekali menggesekkan ujung lidahku di sana, lalu menghisapnya kuat-kuat seperti permen. Suara kecipak lidahku beradu dengan memeknya yang basah terdengar jelas.
“Ahhh… ohhh… aku… aku mau keluar…!” Revelia mengerang, tubuhnya kejang-kejang, air matanya menetes di pipi. Aku tahu dia sudah di ambang orgasme. Aku mempercepat jilatanku, mengocok klitorisnya dengan lidahku yang basah.
“Keluarkan, Sayang… keluarkan untukku…” bisikku di antara jilatan.
Dan benar saja, tubuh Revelia menegang sekali lagi, pinggulnya terangkat, dan dia menjerit panjang, “Aaaahhhhhhh!!!” Cairan bening meluncur deras dari memeknya, membasahi lidah dan wajahku. Aroma memeknya semakin kuat, bercampur dengan aroma kepuasan.
Aku bangkit, membiarkan memeknya yang basah kuyup terkena udara. Wajahku dan bibirku basah oleh lendir memeknya. Aku menatapnya. Matanya sayu, bibirnya bengkak, napasnya terengah-engah.
“Sekarang giliranku,” kataku, mataku menyala.
Aku membuka resleting celanaku, mengeluarkan batang kontolku yang sudah mengeras dan menegang seperti batu, kepalanya sudah memerah dan berdenyut. Revelia menatap kontolku, matanya membesar.
“Sialan, besar sekali…” gumamnya, bibirnya sedikit terbuka.
“Kau suka?”
“Aku cinta,” jawabnya, suaranya parau.
Dia berlutut di depanku, tanpa diminta. Tangannya yang mungil meraih batang kontolku, mengusapnya perlahan. Lalu, dengan gerakan sensual, dia menundukkan kepala, dan bibirnya melingkupi kepala kontolku. Lidahnya bermain-main di sekitar kepala, menghisapnya perlahan.
“Ahh… sialan… itu nikmat sekali…” desahku, kepalaku mendongak.
Revelia terus menghisap, bibirnya bergerak naik turun, melahap kontolku sampai ke pangkalnya. Tenggorokannya yang sempit menelan batangku. Suara kecipak isapan bibirnya terdengar begitu menggoda. Sesekali, matanya melirik ke atas, menatapku dengan tatapan nakal yang membuatku semakin gila.
“Enak, Sayang? Enak?” tanyaku, tanganku meremas rambutnya.
Dia tidak menjawab, hanya terus menghisap, mengocok kontolku dengan mulutnya yang basah. Aku merasakan bijiku berdenyut, tanda bahwa aku tidak akan bertahan lama.
“Aku… aku mau keluar…!” kataku, suaraku tercekat.
Revelia melepaskan hisapannya, kepalanya kontolku tersembul keluar dari mulutnya yang basah. Dia tersenyum, lalu berdiri.
“Kau mau masuk ke mana?” tanyanya, nada suaranya menggodaku.
“Memekmu, jalang! Aku mau memekmu!”
Aku mendorongnya ke belakang, membuatnya bersandar ke batang pohon. Kakinya sedikit terbuka. Aku menggesekkan kepala kontolku yang basah dan berlendir di bibir memeknya yang bengkak.
“Ahh… rasakan ini…” kataku, menekan perlahan.
Kepala kontolku yang gemuk perlahan menembus lubang memeknya yang hangat dan ketat.
“Ohhh… pelan-pelan…” Revelia mendesah, punggungnya melengkung.
Aku terus mendorong, inci demi inci, merasakan dinding memeknya yang menjepit erat kontolku. Rasa nikmat yang luar biasa menyengat seluruh tubuhku.
“Sialan, memekmu sempit sekali… jepit kontolku, jalang…” desisku, seluruh batang kontolku sudah masuk sepenuhnya.
“Ahhh… penuh sekali… aku suka…” erangnya, kakinya melilit pinggangku.
Aku mulai menggenjot, perlahan pada awalnya, merasakan sensasi gesekan kulit ke kulit, memeknya yang basah melilit kontolku. Aku mendongak, melihat Farhan dan Shinta sedang melakukan hal yang sama di kejauhan, Farhan tampaknya sedang mengocok Shinta dari belakang. Pemandangan itu semakin membakar hasratku.
“Lihat mereka, Sayang… mereka sedang menikmati satu sama lain…” bisikku, menggerakkan pinggulku lebih cepat.
“Ahhh… aku tidak peduli… aku hanya mau kontolmu… genjot aku, brengsek!” Revelia berteriak, suaranya melengking.
Aku menggenjotnya dengan lebih cepat dan bertenaga. Kontolku yang keras menghantam pantatnya yang empuk, setiap dorongan membuat suara kecipak basah yang memuaskan. Pinggul kami saling beradu, tubuh kami bergesekan, keringat mulai membasahi dahi kami.
“Terus… lebih dalam… ahhh… lebih cepat!”
Aku menarik kontolku keluar hampir sepenuhnya, lalu menusukkannya kembali dengan satu hentakan keras. “Persetan! Aku akan memenuhmu dengan spermaku!”
“Penuhi aku! Penuhi aku, Sayang!”
Setiap kali aku menusuk, Revelia mendesah keras. Aku bisa merasakan otot-otot vaginanya yang menjepit kuat kontolku, setiap gerakannya memompa hasratku semakin tinggi. Klitorisnya terus bergesekan dengan pangkal kontolku, memberinya sensasi yang luar biasa.
“Ahhh… ohhh… yaaa… ini nikmat sekali…” erangku, mataku terpejam, menikmati setiap detik.
Aku menunduk, mencium bibirnya lagi, lidah kami saling beradu, sementara pinggulku terus menggenjotnya tanpa henti.
“Kau… jalang paling nikmat… aku akan pecah di dalammu!”
“Pecah! Pecah sekarang!”
Aku bisa merasakan gelombang orgasme mulai datang, menjalar dari bijiku ke seluruh tubuhku. Kontolku berdenyut-denyut di dalam memeknya.
“Aku datang! Aku datang!”
Dengan satu dorongan terakhir yang sangat kuat, aku menjerit, dan seluruh tubuhku menegang. Cairan panas dan kental menyembur deras dari ujung kontolku, membanjiri rahim Revelia. Aku merasakan sperma panas itu memenuhi dirinya, membasahi dinding vaginanya.
“Aaaahhhh!!! F**k!!!” Aku menjerit, tubuhku kejang-kejang.
Revelia juga menjerit, pinggulnya bergerak tak terkendali. “Ohhh… panas sekali… aku juga keluar!”
Dia orgasme lagi, tubuhnya bergetar hebat, cairan memeknya yang hangat bercampur dengan spermaku. Kami berdua terdiam, terengah-engah, tubuh kami masih saling menempel, kontolku masih tertancap di dalam dirinya.
Napas kami memburu, jantung kami berdebar kencang. Aku menatap matanya yang sayu, ada senyum kepuasan di bibirnya.
“Itu… gila…” bisikku.
“Sangat gila,” jawabnya, mencium bibirku lembut.
Kami tetap dalam posisi itu beberapa saat, menikmati kehangatan dan kekenyangan di antara kami. Di kejauhan, aku mendengar desahan Shinta yang melengking. Ternyata mereka juga baru selesai. Pemandangan itu semakin membuatku tersenyum. Ini baru awal dari petualangan gila kami di puncak.



Post Comment